
“Tidak melukai perasaan korban bencana yang dapat mengakibatkan patah semangat atau lainnya,” terangnya.
Fikri pun menegaskan, jurnalis pun memiliki peran penting dan penanganan pasca bencana.
“Media juga diharapkan dapat menyuarakan korban bencana. Media harus berdiri di sisi korban yang sedang memperjuangkan hak untuk hidup normal seperti sediakala,” paparnya.
Menurut Fikri, media perlu secara kritis mengabarkan proses penanganan rekonstruksi dan rehabilitasi pascabencana dan kendalanya kepada stakeholders, termasuk pemerintah.
“Sebagai wakil publik, media bertugas mengawasi dana rekonstruksi dan rehabilitasi pascabencana. Dalam banyak kasus, pada fase ini sering terjadi penyelewengan dana yang bersumber dari APBN dan donasi,” tuturnya.
Pelaksana tugas Kepala Pusat Data, Informasi dan Komunikasi Kebencanaan BNPB, Abdul Muhari menyebut, tahun 2021, bencana hidrometeorologi basah seperti banjir, cuaca ekstrem dan tanah longsor mendominasi kawasan Jabodetabek.
“Kejadian tanah longsor mendominasi Jabodetabek, terutama pada wilayah Kabupaten Bogor,” kata Abdul Muhari.
Secara historis banjir Jabodetabek per kabupaten/kota dalam kurun waktu 2021-2022, Kabupaten Bogor tercatat sebanyak 181 kejadian, dibandingkan Jakarta Timur sebanyak 75 kejadian, dan Jakarta Selatan 57 kejadian.
Frekuensi kejadian banjir di Kabupaten Bogor dikatakan luar biasa, lebih dari dua kali lipat dari kabupaten/kota lainnya.
“Selain itu, secara historis korban jiwa akibat bencana hidrometeorologi basah di Jabodetabek tercatat paling tinggi di tahun 2020, yakni sebanyak 65 jiwa,” imbuhnya. ***
Penulis : Mutia Dheza Cantika
Follow dan Baca Artikel lainnya di Google News
Follow dan Baca Artikel lainnya di Google News atau whatsapp channel
====================================== ====================================















