BOGOR-TODAY.COM – Beratap daun kelapa, puluhan siswa Sekolah Dasar Negeri atau SDN 1 Jenggala, Kecamatan Tanjung, Kabupaten Lombok Utara, Nusa Tenggara Barat (NTB) belajar belajar di gubuk bambu.

Mereka terpaksa belajar di ruang tidak layak tersebut karena gedung sekolah mereka hancur pasca gempa yang terjadi lima tahun silam tetapi hingga saat ini tak kunjung diperbaiki.

Melansir beritasatu.com, Kamis (9/8/2023) salah seorang guru SDN 1 Jenggala Eko Adrian mengatakan pasca gempa, tepatnya tahun 2019, sekolahnya hanya mendapatkan dua lokal ruangan yang di bangun. Namun, karena jumlah siswa yang cukup banyak sehingga pihak sekolah bersama masyarakat membangun ruang sekolah dengan bedek bamboo atau pagar bambu.

“Cuman dibangunkan dua lokal dari Rumah Instan Sehat Sederhana (Risha) itu, akhirnya yang lain kita pikirkan kita undanglah orang tua semua orang wali itu, kita ajak untuk diskusi akhirnya kita sepakat gedung (bedek bambu),” ungkapnya.

Lebih lanjut Eko menuturkan, karena masih minimnya ruang kelas, sementara siswa banyak, mulai kelas satu hingga kelas enam, membuat pihak sekolah dan orang tua siswa, bersama-sama membangun ruang kelas untuk anak-anak mereka, demi untuk belajar.

BACA JUGA :  Wali Murid di Sukaraja Keluhkan Sistem SPMB Kabupaten Bogor 2026

“Bahkan uangnya pun dari mereka, kita bersama-sama, kita dari dana bantuan operasi sekolah (BOS) pokoknya secara swadaya begitu, ini usianya dari 2019 hingga 2023 sekitar lima tahun,” tuturnya.

Selain itu, pihak sekolah sebelumnya telah memprediksi, ruang kelas dari bedek bambu itu, akan membuat kondisi belajar para siswa tidak efektif, terlebih kondisi ruang kelas mereka jauh dari kata layak.

“Sebenarnya kita sudah menduga pasti akan terkendala kelas-kelas yang berdekatan ini kan saling melihat bahkan di sebelahnya itu kalau sudah selesai belajar agak mengganggu sebelahnya juga kita melihat bahan-bahan kayak bambu ini tidak akan bertahan lama. Tembok aja bisa jebol apalagi bambu ini, memang agak terganggu,” ujarnya.

Sementara itu, ruang kelas yang sudah di bangun ada dua lokal, yaitu satu ruang Unit Kesehatan Sekolah (UKS) dan satu ruangan perpustakaan yang juga digunakan untuk proses aktivitas belajar mengajar.

BACA JUGA :  "Bogor Belum Selesai Ditulis", Karya Sastra untuk Kabupaten Bogor

“Pascagempa memang kita dibangunkan tapi bukan dari ruang kelas baru (RKB) di bangun ruang UKS satu dan ruang perpustakaan yang itu kita gunakan untuk belajar juga, pascagempa itu ada dua RISHA yang di sebelah utara itu untuk kelas satu dan dua, sementara yang sisinya itu yang kita buat ini,” jelasnya.

Eko melanjutkan, sekolahnya rencana akan dibangun tahun depan, bahkan pihak sekolah mendapatkan bantuan rehab dari dana aspirasi anggota dewan yang nilainya Rp 200 juta.

“Memang ini dijanjikan di bangun tahun depan dan sekarang ini lagi proses ada dari dewan dana aspirasi sekitar Rp 200 juta untuk rehab ini, kalau koordinasi sama dinas sudah bagus sih. Sudah kita dijanjikan bahkan sudah disiapkan tempat ini sebagai prioritas,” tuntasnya.

Salah seorang siswa kelas enam, Nina mengaku ia setiap hari belajar di ruang yang jauh dari kata layak tersebut, bahkan jika musim hujan ruang kelas mereka tergenang banjir. ***

Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News

Bagi Halaman

Follow dan Baca Artikel lainnya di Google News atau whatsapp channel



======================================
====================================