
Oleh : Heru B Setyawan (Pemerhati Pendidikan)
SAYA adalah putra dari Pahlawan Daerah, yaitu Kapten (Purn) TNI Kasmiran Judijatno, beliau dimakamkan di Makam Taman Pahlawan Kabupaten Blora Jawa Tengah.
Biografi singkat beliau adalah pernah menjadi tentara Heiho Jepang, tentara Pembela Tanah Air (PETA), memberantas pemberontakan Kartosuwiryo dan G30/S/PKI, aktif sebagai prajurit TNI sampai purna tugas.
Setelah memasuki purna tugas, beliau masih aktif menjadi sekretaris pengurus periode pertama dari Golongan Karya (Golkar) Kabupaten Blora sampai akhir hayatnya.
Ya penulis prihatin, sedih dan agak marah, karena perjuangan para Pahlawan dengan mengorbankan jiwa dan raga hanya dibalas dengan perlombaan yang melanggar sopan santun, bahkan ada yang bernilai maksiat.
Lomba perayaan kemerdekaan 17 agustus yang umum dan kebanyakan di rayakan oleh masyarakat Indonesia.
Yaitu panjat pinang, balap karung, balap bakiak, pukul bantal di kolam, memasukkan pensil di botol dan balap kelereng dengan sendok.
Yang perlu dikritisi dari berbagai lomba tujuh belas agustus ini adalah faktor keselamatan, kesopanan agar tidak melanggar ajaran agama.
Keselamatan lomba panjat pinang memang perlu perhatian dari kita semua. Sudah ada korban pada tahun lalu yang terjadi di Bandung, karena pohon pinangnya patah dan setinggi 7 meter.
Selain itu apa tidak berbahaya ditinjau dari segi kesehatan pada lomba panjat pinang ini, seorang yang berada paling bawah diinjak oleh beberapa orang.
Jadi perlu tinjauan khusus dari segi kesehatan dan keselamatan, agar tontonan yang menarik dan heboh ini juga aman untuk peserta panjat pinang.
Menurut penulis lomba-lomba tersebut di atas masih bersifat normal dan baik-baik saja serta penuh keceriaan serta kehebohan sebagai lomba khas perayaan kemerdekaan RI.
Dengan lomba ini masyarakat Indonesia sangat terhibur dan bisa tertawa dengan lepas.
Tapi ada beberapa lomba yang penulis tidak setuju yaitu lomba yang melanggar kesopanan. Yaitu lomba joget berpasangan laki-laki dan perempuan dengan balon menempel di kepala, ini melanggar kesopanan, apalagi jika pasangannya bukan muhrimnya.
Lomba makan krupuk sambil berdiri, bukankah makan sambil berdiri itu dilarang agama Islam, serta dari segi kesehatan makan sambil berdiri itu bisa merusak ginjal.
Bukankah Rosul SAW kalau makan duduk? Padahal kalau kita mengikuti sunnah Rosul, seperti makan sambil duduk, hidup kita makin berkah, bisa jadi bangsa Indonesia belum berkah.
Bahkan sekarang makin terpuruk, karena sebagian besar masyarakat Indonesia belum melaksanakan sunnah Rosul.
Ada juga lomba sepak bola bapak-bapak yang memakai daster, memang maksud dari panitia untuk lucu-lucuan saja.
Ini juga tidak sopan dan secara tidak lansung kita setuju dengan hal-hal yang berhubungan dengan bencong atau waria. Bukankah pemerintah sudah melarang di TV acara yang bercorak waria.
Tapi bagaimana perasaan para Pahlawan yang sudah ada di alam kubur, pastilah para Pahlawan ini sedih melihatnya.
Pengorbanan para Pahlawan dengan jiwa dan raga mereka, hanya dibalas dengan lomba yang melanggar sopan santun dan ajaran agama.
Bahkan ada perayaan kemerdekaan yang bernilai maksiat yaitu panitia mengadakan konser dangdut dengan penyanyi yang mengumbar aurat, gerakan penyanyi yang erotik dan para penonton pada nyawer.
Ini sungguh terjadi dan penulis lihat sendiri di beberapa tempat bahkan di kampung dekat perumahan penulis.
Yang menyedihkan harusnya para pemimpin melarang atau minimal tidak ikut joget. Ternyata masih ada juga beberapa pemimpin yang ikut berjoget dengan penyanyi yang sexy.
Kalau seorang pemimpin yang sudah soleh atau solehah, tidak akan mau ikut joget dangdut, karena pasti tidak nyaman dan malu untuk melakukannya. Merdeka, merdeka, merdeka. Jayalah Indonesiaku. ***
Follow dan Baca Artikel lainnya di Google News
Bagi HalamanFollow dan Baca Artikel lainnya di Google News atau whatsapp channel
====================================== ====================================















