
“Hal-hal ini yang membuat kepanikan publik. Kami berharap agar pemerintah melakukan upaya-upaya untuk menjaga masalah beras ini tidak berlalu terlarut,” tambahnya.
Abdullah menegaskan, stok beras memang masih ada, tetapi perlu diingat bahwa ketika membicarakan stok beras, perlu juga mempertimbangkan perspektif jangka panjang.
“Saat ini, stok masih ada, tetapi para pedagang juga perlu melihat tren untuk jangka waktu yang lebih panjang. Bulog memiliki stok sekitar satu juta ton lebih. Pertanyaannya, apakah itu akan cukup untuk empat bulan ke depan? Ini harus diantisipasi dan diawasi oleh pemerintah. Karena isu beras tidak hanya berkaitan dengan saat ini, besok, atau bulan depan, tetapi juga dengan kebutuhan jangka panjang hingga tahun depan,” ujar Abdullah.
IKAPPI juga telah menemui Kepala Badan Pangan Nasional (Bapanas), Arief Prasetyo Adi untuk membicarakan masalah harga beras yang tinggi.
“Kami melihat memang beras ini semakin hari, semakin ruwet ya. Kalau kita lihat ritme kenaikannya ini perlu dikhawatirkan karena per hari yang medium dan premium bisa sampai Rp 500 bahkan Rp 1.000. Kenaikan ini menurut saya tidak wajar karena permintaan belum tinggi,” ungkap Abdullah. ***
Follow dan Baca Artikel lainnya di Google News atau whatsapp channel
====================================== ====================================















