
“Setelah diselidiki oleh Kepolisian Malaysia, ternyata yang membuat itu adalah remaja Indonesia yang tinggal di Sabah, dia anak Pekerja Migran Indonesia,” tutur Hermono lagi.
Sementara itu, meski di akun YouTube tersebut dituliskan bahwa Helo Kuala Lumpur adalah lagu partriot Malaysia, Hermono yakin bahwa lagu tersebut tidak pernah diajarkan di sekolah-sekolah di Malaysia.
“Di Malaysia sendiri, lagu itu tidak pernah diajarkan di sekolah Malaysia. Mungkin Kominfo atau BSSN bisa menyelidiki dulu siapa yang bikin dan diunggah dari mana,” ungkap dia.
Hermono, sebagai kepala perwakilan Indonesia di Kuala Lumpur, berharap agar warga Indonesia bisa meredam amarahnya terkait kasus dugaan penjiplakan ini. Pasalnya, saat ini, KBRI tengah menyelidiki siapa pembuat konten tersebut.
Hermono juga menuturkan bahwa Indonesia dan Malaysia kurang lebih memang memiliki kesamaan budaya.
“Persoalan besarnya bagaimana kita bisa mengelola yang disebut ‘shared cultural heritage’ atau warisan budaya bersama. Jangan sampai masalah kesamaan budaya ini justru jadi unsur pertikaian,” katanya.***
Follow dan Baca Artikel lainnya di Google News
Follow dan Baca Artikel lainnya di Google News atau whatsapp channel
====================================== ====================================















