Setelah mencampurkan tepung beras dan gula merah, Bi Acih membentuk adonan tersebut menjadi bulatan yang mengembang, kemudian menggorengnya hingga matang.

Pada waktu itu, proses penggorengannya belum seperti yang dikenal sekarang, yakni dengan menggantungkannya.

BACA JUGA :  Bupati Bogor Raih Penghargaan Nasional atas Keberhasilan Infrastruktur dan Konektivitas Daerah

Bentuk adonannya mirip dengan camilan lain yang disebut Ali Agrem, hanya saja Ali Agrem berbentuk seperti donat atau cincin, yang dalam bahasa Sunda disebut “ali.”

Burayot kemudian menjadi camilan yang populer saat ada pertemuan atau acara khusus, dan kabarnya, sudah ada sejak zaman penjajahan Belanda. ***

BACA JUGA :  Motor Listrik MBG Era Dadan Terbengkalai di Bogor, Ini Kata Kajari

Follow dan Baca Artikel lainnya di Google News

Halaman:
« 1 2 » Semua

Follow dan Baca Artikel lainnya di Google News atau whatsapp channel



======================================
====================================