
Sebagai contoh, terdapat video yang menampilkan Presiden Joko Widodo (Jokowi) berpidato dalam bahasa Mandarin. Padahal, menurut penjelasan Kominfo, video tersebut telah diedit menggunakan teknologi deepfake, sedangkan Jokowi sebenarnya tidak menggunakan bahasa Mandarin dalam pidatonya.
“Semua ini menciptakan gangguan di ranah digital, sehingga informasi yang beredar sulit dibedakan antara hoaks dan fakta,” ujar Adhiarna.
Dia juga menegaskan pentingnya menjaga kebersihan dan keamanan ranah digital, terutama mengingat Indonesia akan menghadapi pemilihan umum pada tahun 2024.
“Ketika kita menghadapi perhelatan politik, kita harus memastikan bahwa ruang digital kita tetap aman dan bersih,” tambahnya. ***
Follow dan Baca Artikel lainnya di Google News
Follow dan Baca Artikel lainnya di Google News atau whatsapp channel
====================================== ====================================















