Sekretaris Jenderal Kementerian Kominfo
Ilustrasi/freepik.com

BOGOR-TODAY.COM – Teknologi Kecerdasan Buatan (AI) sempat menimbulkan kekhawatiran bahwa ia akan menggantikan pekerjaan yang bergantung pada otomatisasi manusia. Namun, terbukti bahwa dampak negatif AI tidak terbatas pada aspek itu saja.

Dampak buruk AI dapat terwujud dalam berbagai bentuk jika penggunaannya tidak diatur dengan baik atau risikonya tidak dikelola.

Melansir cnbc Indonesia, Rabu (1/11/2023) Mira Tayyiba, Sekretaris Jenderal Kementerian Kominfo, mencatat bahwa insiden terkait AI terus mengalami peningkatan. Menurut data dari Stanford University dalam periode 2012-2022, terdapat peningkatan sebanyak 26 kali lipat.

BACA JUGA :  Resep Bihun Ayam Rebus Kuah Gurih, Cocok Dinikmati Saat Cuaca Dingin

“Penyebaran disinformasi yang dihasilkan oleh AI juga merupakan perhatian utama bagi semua pihak, karena dapat disalahgunakan untuk memanipulasi opini publik dan memicu perselisihan. Hal ini kemudian berpotensi menimbulkan gangguan dalam layanan publik, ketertiban sosial, serta stabilitas ekonomi,” ujar Mira dalam Forum Ekonomi Digital Kominfo (FEDK) VI.

BACA JUGA :  Pengendara Motor Tewas Terlindas Truk di Gunung Putri Bogor

Sementara, I Nyoman Adhiarna, Sekretaris Jenderal Aplikasi Informatika Kementerian Kominfo, menyoroti masalah disinformasi yang dapat dimanfaatkan dengan bantuan teknologi AI. Bahkan, informasi yang salah sulit dibedakan dari fakta sebenarnya.

Follow dan Baca Artikel lainnya di Google News atau whatsapp channel



======================================
====================================