
Wali Kota Bogor, Bima Arya, Wakil Wali Kota Bogor, Dedie A. Rachim bersama Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Bogor, Sri Nowo Retno secara simbolis melepas penutup plang Perda KTR di BCC serta menempelkan stiker Perda KTR di angkutan perkotaan (angkot) dan bus Uncal.
Dalam sambutannya, Bima Arya mengungkapkan tiga hal jika menjadi pemimpin, yakni harus tahu prioritas, harus cerdas dan harus tegas.
“Pemimpin itu tahu mana yang paling penting, mana yang harus jadi target utama, mana yang tidak penting dan bukan target. Buat apa banyak kegiatan, uang berputar tapi anak-anak muda terjebak dalam kenikmatan sesaat, racun nikotin dan pergaulan bebas. Untuk apa ekonomi digenjot, semua punya penghasilan tapi dalam hitungan tahun rontok karena TBC, kanker, paru-paru, bukan saja mulai merokok tapi mencoba yang lain dan lebih gawat serta lebih beracun,” kata Bima Arya.
Kesehatan menurut Bima Arya, merupakan hal yang utama bagi seorang pemimpin. Kalau ada pemimpin atau calon pemimpin yang hari ini bicara tentang pentingnya untuk melibatkan event organizer, pentingnya untuk menggenjot PAD tanpa berbicara kesehatan, maka sudah pasti tidak paham tentang prioritas dan tidak paham mana yang paling utama.
“Yang namanya komitmen pengelolaan tembakau, itu tidak hanya inisiatif Kota Bogor, tapi juga kebijakan nasional, bahwa seluruh kota/kabupaten diarahkan untuk komitmen konsisten pada Peraturan Daerah KTR, untuk menyelamatkan anak-anak muda. Kalau bicara akan membatalkan Perda KTR berarti tidak cerdas dan tidak paham. Kalau kemudian bicara PAD menurun, tidak tercapai dan lain-lain harus cerdas, dilihat dan dibaca tren PAD bagaimana, yang masuk dari mana, yang hilang dari mana. Data menunjukkan hilang dari rokok, datang dari yang lain yang lebih sehat, berkah dan manfaat. Cerdas menggali potensi penerimaan daerah tidak terjebak pada industri rokok dengan kepentingan sesat dan sesaat,” tutur Bima Arya.
Terakhir Bima Arya menegaskan pemimpin harus tegas. Kalau hanya untuk kepentingan populis atau motif tertentu tetapi kemudian mengorbankan kepentingan yang lebih besar, maka pemimpin seperti itu sudah pasti tidak tegas.
“Aturan sudah ada, targetnya pun jelas, demikian pula dengan prioritasnya, maka pemimpin harus tegas on the trek tetap pada kebijakan yang didukung warga yang menginginkan kota ini tetap sebagai kota yang sehat. Kita ingin yang baik berlanjut, kita ingin Perda KTR ini disempurnakan, karena Kota Bogor nomor satu dan terdepan jangan ke belakang dan mundur,” jelasnya.
Ia pun menyampaikan apresiasi untuk semua dukungan yang diberikan komunitas dan masyarakat, karena tidak ada artinya ikhtiar yang dilakukan wali kota atau kepala dinas jika tidak mendapatkan dukungan.
“Jangan salah memilih pemimpin atau wali kota. Dalam demokrasi bebas menentukan pilihan, tapi pilihlah secara bijak, pilih pemimpin yang tahu prioritas, cerdas dan tegas,” kata Bima Arya.***
Follow dan Baca Artikel lainnya di Google News
Follow dan Baca Artikel lainnya di Google News atau whatsapp channel
====================================== ====================================















