Dilema Penanganan PSK di Bogor, Keluarga dan Ekonomi Jadi Faktor Utama

Kepala Satpol PP Kabupaten Bogor, Cecep Imam Nagarasid, menjelaskan bahwa penanganan terhadap para pekerja seks komersial (PSK) terkendala penuh sesaknya tempat pembinaan yang ada di Cirebon dan Sukabumi.

“Setelah dinyatakan melanggar, langkah selanjutnya mestinya adalah pembinaan. Namun, tempat pembinaannya di Cirebon dan Sukabumi sudah penuh, terutama untuk PSK dari Kabupaten Bogor,” jelas Cecep.

Karena keterbatasan ini, Satpol PP hanya bisa memberikan tindakan ringan seperti pemeriksaan identitas dan menghubungi keluarga PSK untuk memberi tahu tentang situasi tersebut.

BACA JUGA :  Warga Malasari Sumringah, Puncak HJB ke-544 Dongkrak Perekonomian

Yang mengejutkan, menurut Cecep, banyak keluarga justru membiarkan anak-anak mereka terlibat dalam praktik ini karena alasan ekonomi.

“Bahkan, ada orang tua yang bilang, ‘Pak, saya tahu anak saya PSK, tapi apakah bapak mau menafkahi anak saya dan keluarga saya?’ Saya bisa saja menindak tegas, tapi keluarganya pun berpendapat seperti itu,” ungkap Cecep.

Ia menambahkan bahwa para PSK melakukan pekerjaan tersebut demi memenuhi kebutuhan sehari-hari. Cecep menyatakan bahwa masalah ini dipicu oleh kurangnya fasilitas rehabilitasi yang seharusnya bisa memberikan pembinaan serta keterampilan agar para PSK dapat beralih profesi.

BACA JUGA :  Batu Ginjal Tak Selalu Karena Kurang Minum, Ini Penyebab yang Perlu Diwaspadai

“Mereka butuh makan, butuh menyekolahkan anak, namun kenyataannya mereka tidak mendapatkan hak-hak dasar, seperti pembinaan dan pelatihan keterampilan,” tutupnya. (cr2)

Follow dan Baca Artikel lainnya di Google News

Halaman:
« 1 2 » Semua

Follow dan Baca Artikel lainnya di Google News atau whatsapp channel



======================================
====================================