Rudy Susmanto Khusyuk Ikuti Setiap Prosesi di Makam Mbah Pangeran Sake

Keturunan Pangeran Sake diantaranya Pangeran Suryadinata, Pangeran Kertayudha, Pangeran Wiranata, Pangeran Suryapringga, Raden Komarudin, Raden Syarifudin, Raden Sahabudin, Raden Muhidin, Ratu Jiddah, Tubagus Badrudin, Tubagus Kamil dan Ratu Mantria.

Panggilan Pangeran Sake tentu secara historis dapat dilacak, nama aslinya Syarifudin Shoheh kok dikenal pangeran Sake.

Setelah melacak beberapa referensi ditemukan sebuah tulisan yang mengatakan panggilan pangeran sake, karena setiap berdakwah, beraktivitas bahkan berjuang melawan Belanda selalu tidak lepas membawa minum yang ditempatkan pada sebuah kantong yang dikenal sake.

Sake ini tempat minuman orang tua dahulu yang bahannya terbuat dari kayu kayak rotan. Karena selalu melekat kemanapun Pangeran Sake beraktifitas dan menjadi ciri khasnya beliau, maka panggilan pangeran sake pun melekat sampai kini.

Pangeran Sake atau Mbah Sake sudah tidak asing bagi masyarakat Kabupaten Bogor terutama wilayah Citeureup. Namanya begitu harum dan mulia, jasa-jasa beliau begitu dikenang masyarakat karena selama hidupnya mengabdikan diri kepada masyarakat tidak diragukan lagi.

BACA JUGA :  Apakah Boleh Olahraga Saat Haid? Ini Penjelasan dan Rekomendasinya

Bahkan setelah kewafatannya, makamnya selalu ramai diziarahi orang untuk mendoakan baik datang dari warga sekitar Bogor, Jabodetabek, Bandung, Tasikmalaya, Karawang bahkan Kalimantan.

Mbah Sake banyak berjasa menyebarkan agama Islam di Bogor dan Jakarta bahkan Bekasi Cibarusah. Masjid Ash-Shoheh salah satu peninggalan dalam penyebaran Islam yang ia lakukan, ia habiskan waktu untuk beribadah, berzikir sebagai ciri khas penganut tarikat naqsabandiyah.

Semasa hidupnya ia pemilik perkebunan Tjitrap kini dikenal Citeureup yang melakukan perlawanan terhadap Belanda, karena tidak sepaham dengan kakaknya Sultan Haji dan Pengeran Purbaya yang memihak Belanda.

Salah satu bukti Citeureup peninggalan Pangeran Sake dapat dianalisa dari segi bahasanya, bahasa yang digunakan penduduknya menggunakan bahasa sunda yang relative kasar berbeda dengan sebelahnya Cibinong, Gunungputri dan Cileungsi yang cenderung lebih berbahasa melayu.

Hal ini menjadi bukti pengaruh Pangeran Sake dari Banten menjadi komunitas keturunan Banten dengan kecenderungan menggunakan bahasa sunda kasar, hampir sama ini ditemukan di Jatinegara Kaum yang dibangun oleh saudaranya Pangeran Sogiri.

BACA JUGA :  Benarkah Sifat Anak Lebih Banyak Turun dari Ibu atau Ayah? Ini Penjelasan Ilmiahnya

Citeureup pada saat beliau datang dari Banten masih hutan lebat dan dihuni hanya beberapa penduduk saja, kemudian dibuka pendudukpun semakin berdatangan dak dakwah Islam berkembang di tangan beliau.

Salah satu artepak sejarah peninggalan Pangeran Sake berupa Masjid Ash-shoheh dan makam beliau yang diyakini masyarakat sekitar.

Makam beliau ditemukan selain di Citeureup tepatnya di Kampung Nangka Karangasem Timur Citeureup, ditemukan pula di Cibinong, Cileungsi bahkan Cibarusah. Hal ini disengaja pada saat itu untuk mengelabuhi penguasa Belanda yang selalu mengamati gerakan keturunan Sultan Ageng Banten.

Tempat-tempat tersebut disebut petilsan perjuangan Pangeran Sake dalam menyebarkan agama Islam. Namun yang paling banyak diziarahi para pejiarah adalah makam Pangeran Sake yang berlokasi di Kampung Nangka Karangasem Timur Citeureup.***

Follow dan Baca Artikel lainnya di Google News

Halaman:
« 1 2 » Semua

Follow dan Baca Artikel lainnya di Google News atau whatsapp channel



======================================
====================================