Mengapa Tak Ada Lagi Manusia yang Mendarat di Bulan? Jim Bridenstine Ungkap Alasan Sesungguhnya

Mengapa Tak Ada Lagi Manusia yang Mendarat di Bulan? Jim Bridenstine Ungkap Alasan Sesungguhnya

BOGORTODAY.COM – Neil Armstrong berhasil mengukir sejarah pada 20 Juli 1969 sebagai manusia pertama yang menginjakkan kaki di Bulan. Misi Apollo 11 yang sukses ini menandai puncak dari perjuangan manusia dalam penjelajahan luar angkasa.

Namun, setelah misi Apollo 17 pada tahun 1972, tidak ada lagi manusia yang kembali menginjakkan kaki di satelit alami Bumi itu. Keheningan hampir lima dekade ini menimbulkan berbagai spekulasi dan konspirasi mengenai alasan di balik ketidakhadiran kembali astronot di Bulan.

Melansir detikInet, spekulasi tersebut akhirnya mendapatkan jawaban dari mantan Administrator NASA, Jim Bridenstine.

Dalam wawancara eksklusif, Bridenstine mengungkapkan alasan sebenarnya mengapa misi berawak ke Bulan tidak dilanjutkan setelah 1972. “Kenyataannya cukup menyedihkan,” ungkap Bridenstine, “Bukan karena teknologi kita belum memadai, atau ada ancaman alien yang menghalangi. Alasan utamanya adalah politik dan anggaran.”

Bridenstine menjelaskan bahwa meskipun teknologi luar angkasa sudah cukup maju untuk mengirimkan manusia kembali ke Bulan, tantangan utama yang dihadapi adalah komitmen politik dan masalah pendanaan.

Menurutnya, eksplorasi luar angkasa, terutama program misi berawak ke Bulan, membutuhkan dukungan politik yang konsisten dan investasi jangka panjang yang sangat besar. Setelah keberhasilan misi Apollo, misi ke Bulan justru kehilangan prioritas.

Setelah berakhirnya Perang Dingin, prioritas nasional Amerika Serikat mulai beralih. Fokus negara tersebut beralih pada masalah-masalah domestik dan tantangan geopolitik lainnya. Selama periode ini, program luar angkasa yang memerlukan anggaran besar menjadi semakin terabaikan.

BACA JUGA :  Resep Bolu Tape Lembut dan Harum, Cocok untuk Teman Minum Teh

“Dukungan politik untuk program luar angkasa menurun drastis. Setiap presiden yang masuk memiliki agenda mereka sendiri, dan program jangka panjang seperti misi ke Bulan seringkali tidak dianggap penting,” jelas Bridenstine.

Program luar angkasa, yang sebelumnya mendapatkan prioritas tinggi selama era Perang Dingin dan persaingan dengan Uni Soviet, kini menjadi salah satu korban pergantian pemerintahan dan perubahan kebijakan politik.

Dengan anggaran yang terbatas dan agenda politik yang berubah-ubah, NASA tidak lagi memiliki dana dan dukungan politik yang cukup untuk melanjutkan misi-misi berawak ke luar angkasa, terutama ke Bulan.

Bridenstine menambahkan bahwa misi seperti perjalanan ke Bulan memerlukan investasi besar dalam hal dana dan sumber daya. Untuk mendanai misi semacam itu, dibutuhkan komitmen politik yang kuat dan stabil selama bertahun-tahun.

Sayangnya, dalam sistem politik Amerika Serikat yang sering berubah seiring pergantian presiden dan partai politik, program luar angkasa tidak dapat memperoleh dukungan yang konsisten.

Penting untuk dicatat bahwa meskipun NASA memiliki kemampuan teknologi yang cukup untuk kembali ke Bulan, seperti penggunaan pesawat ruang angkasa baru dan roket besar seperti Space Launch System (SLS), serta proyek-proyek komersial seperti SpaceX, masalah anggaran tetap menjadi hambatan utama.

Dana yang dibutuhkan untuk memfasilitasi misi besar seperti itu sering kali lebih diprioritaskan untuk program-program lain yang dianggap lebih mendesak oleh pemerintah.

BACA JUGA :  Hilang Kendali, Truk Boks Hantam Tiang dan Motor di Bogor

Bridenstine, yang menjabat sebagai Administrator NASA dari 2018 hingga 2021, juga mengungkapkan bahwa meskipun tantangan besar ini, ada peluang untuk manusia kembali ke Bulan di masa depan.

Program Artemis, yang diluncurkan oleh NASA, bertujuan untuk mendaratkan kembali manusia di Bulan pada tahun 2025, dengan ambisi untuk menjelajahi kutub selatan Bulan dan mempersiapkan perjalanan lebih jauh ke Mars.

Namun, Bridenstine menekankan bahwa kesuksesan program ini sangat bergantung pada keberlanjutan pendanaan dan dukungan politik yang konsisten.

“Jika kita ingin melihat manusia kembali ke Bulan dalam waktu dekat, kita harus memiliki komitmen politik yang berkelanjutan dan anggaran yang memadai untuk mendukungnya,” tuturnya.

Meski kemajuan teknologi luar angkasa telah memungkinkan kemungkinan untuk kembali mendarat di Bulan, alasan utama mengapa misi berawak ke Bulan terhenti sejak 1972 adalah karena perubahan prioritas politik dan pemotongan anggaran yang terjadi setelah berakhirnya Perang Dingin.

Seiring waktu, misi luar angkasa sering kali terabaikan, meskipun teknologi dan kemampuan ilmiah telah berkembang pesat.

Namun, dengan adanya program Artemis dan minat kembali pada eksplorasi luar angkasa, harapan untuk mengirimkan manusia kembali ke Bulan kini mulai terwujud, meskipun tantangan pendanaan dan komitmen politik tetap menjadi faktor penentu utama.***

Follow dan Baca Artikel lainnya di Google News

Bagi Halaman

Follow dan Baca Artikel lainnya di Google News atau whatsapp channel



======================================
====================================