
Arief menambahkan, sampah yang terbawa ke waduk memang dapat mengganggu aliran air, terutama yang masuk ke intake Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA). Untuk mengatasi masalah ini, pihak pengelola telah memasang penangkap sampah apung (trashboom) di saluran diversifikasi dan area intake PLTA.
“Setiap sampah yang menempel di trashboom akan rutin kami bersihkan, terutama saat debit air tinggi seperti sekarang.
Sampah-sampah tersebut kemudian kami kumpulkan di satu titik di darat dan diambil menggunakan alat berat HCE untuk dibuang ke Tempat Pembuangan Sampah (TPS),” jelasnya.
Pihak pengelola berkomitmen untuk terus memantau kondisi waduk dan membersihkan sampah agar tidak mengganggu operasional waduk dan PLTA. Meskipun fenomena ini sering terjadi, penanganan rutin dilakukan agar tidak ada dampak yang lebih besar bagi lingkungan dan fasilitas yang ada.
Meskipun sudah ada upaya untuk menanggulangi masalah sampah, penanganan sampah di Waduk Gajah Mungkur masih menjadi tantangan.
Fenomena ini menunjukkan pentingnya kesadaran bersama dalam menjaga kebersihan lingkungan, serta perlunya pengelolaan sampah yang lebih baik di sepanjang bantaran sungai dan daerah aliran sungai (DAS) agar kejadian serupa tidak terulang setiap tahun.***
Follow dan Baca Artikel lainnya di Google News atau Whatsapp Channel
Follow dan Baca Artikel lainnya di Google News atau whatsapp channel
====================================== ====================================















