
Ana menambahkan bahwa Sukodono merupakan kantong ternak sapi terbesar di Sragen, sehingga banyak sarana yang berhubungan langsung dengan sapi menjadi media penularan virus.
Sebagian sapi yang terinfeksi PMK mengalami gejala tidak mau makan dan akhirnya mati. “Beberapa sapi terpaksa dipotong oleh pemiliknya. Penting untuk diingat, jika sapi yang terinfeksi terpaksa dikonsumsi, bagian yang terpengaruh oleh PMK, seperti kuku, mulut, dan jeroan, harus dihindari,” jelas Ana.
Sebagai langkah penanganan, Pemkab Sragen telah melakukan berbagai upaya untuk mencegah penyebaran PMK lebih lanjut.
“Kami sudah melakukan komunikasi, informasi, dan edukasi kepada peternak sapi. Selain itu, kami juga telah mengambil sampel untuk diuji di laboratorium bekerja sama dengan Balai Besar Veteriner Wates. Kami juga membagikan desinfektan gratis kepada peternak, melakukan desinfeksi kandang, dan melaksanakan vaksinasi di Kedawung,” pungkas Ana.
Penyebaran PMK yang cepat ini menjadi perhatian serius bagi pemerintah dan peternak, mengingat dampaknya yang besar terhadap sektor peternakan.
Pemkab Sragen bersama instansi terkait terus berupaya untuk menanggulangi wabah ini agar tidak meluas dan berdampak lebih parah pada peternakan sapi di daerah tersebut.***
Follow dan Baca Artikel lainnya di Google News atau whatsapp channel
Follow dan Baca Artikel lainnya di Google News atau whatsapp channel
====================================== ====================================















