
Disnakan, bersama dengan petugas dari Dinas Perdagangan dan Perindustrian (Disdagperin), telah melakukan tindakan penyemprotan disinfektan pada sapi-sapi yang masuk pasar untuk mencegah penyebaran virus PMK.
“Kita juga kerja sama dengan paguyuban pedagang sapi. Kalau ada sapi yang secara medis menunjukkan sakit, indikasi bergejala (PMK) kita obati. Kita minta dipulangkan dulu, diisolasi sampai sembuh kembali,” tambah Lusia.
Sebagai langkah antisipasi lebih lanjut, Lusia mengimbau peternak untuk menjaga kebersihan kandang dan menerapkan prosedur bioscurity yang ketat, terutama di musim hujan. Selain itu, pemberian pakan yang cukup untuk menjaga imunitas sapi juga dianggap penting.
“Senjata ampuh kita vaksinasi. Kebetulan tanggal 29 Desember 2024 kami mendapat bantuan dari Kementan melalui APPSI sejumlah 50 botol atau 1.250 dosis. Sudah kami suntikkan ke sapi-sapi, sampai kemarin terealisasi 230 dosis,” jelasnya.
Lusia menekankan pentingnya vaksinasi bagi sapi-sapi yang sehat dan mengingatkan agar sapi yang sakit tidak diperjualbelikan hingga sembuh total.
“Kami berharap peternak dan pedagang tidak memperjualbelikan sapi yang bergejala sakit. Segera dilaporkan ke kami untuk kita lakukan pengobatan, kalau sudah sembuh bisa diperjualbelikan lagi,” harapnya.
Penyebaran PMK di Boyolali ini mengingatkan pada kejadian serupa yang terjadi pada 2022 lalu, yang menyebabkan kerugian besar di sektor peternakan. Oleh karena itu, langkah pengendalian dan pencegahan terus dilakukan untuk mencegah meluasnya wabah ini.***
Follow dan Baca Artikel lainnya di Google News atau whatsapp channel
Follow dan Baca Artikel lainnya di Google News atau whatsapp channel
====================================== ====================================















