
BOGORTODAY.COM – Diskursus mengenai kebijakan libur Ramadan, kembali mencuat, mengundang perdebatan hangat di kalangan masyarakat dan pendidikan.
Setelah sebelumnya Kementerian Agama (Kemenag) mengusulkan libur selama sebulan penuh pada bulan Suci Ramadan, Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen), Abdul Mu’ti, mengungkapkan tiga skema libur yang kini menjadi bahan pembicaraan publik.
Skema tersebut meliputi libur penuh selama bulan Ramadan, libur dengan sistem masuk menjelang Idul Fitri, dan skema tanpa libur sama sekali.
Meskipun wacana ini memicu beragam respons, para pengelola pendidikan, terutama di tingkat daerah, mulai menyuarakan pandangan mereka.
Roby Samsi, Kepala Seksi Pendidikan Agama Islam (PAI) Kemenag Kabupaten Bogor, menegaskan apapun keputusan pemerintah terkait libur Ramadan harus tetap berfokus pada penguatan pendidikan agama.
Sebagai bagian dari sistem pendidikan, Roby menilai bahwa selama masa libur, penting bagi sekolah untuk tetap memberikan kegiatan yang dapat mengembangkan karakter dan akhlak siswa.
“Libur bukan berarti berhenti belajar. Kegiatan yang berhubungan dengan pengembangan spiritual dan karakter peserta didik harus tetap berjalan,” tegas Roby saat diwawancarai, Sabtu (18/1/2025).
Salah satu langkah yang dia ajukan adalah memberikan buku panduan salat tarawih dan salat fardhu kepada siswa, serta tugas-tugas terkait ceramah yang disampaikan selama salat tarawih.
Buku tersebut tidak hanya sebagai referensi salat, namun juga menjadi media untuk menyusun kesimpulan dari ceramah, yang kemudian harus ditandatangani oleh penceramah sebagai bentuk pengawasan.
Lebih lanjut, Roby menyarankan agar kegiatan ini menjadi kewajiban bagi siswa selama libur, untuk memastikan bahwa mereka tetap aktif dan terarah dalam menjalankan ibadah dan tugas-tugas agama.
Dengan adanya bimbingan yang terstruktur, diharapkan siswa tidak hanya sekadar menikmati liburan, tetapi juga memperdalam pemahaman dan amalan agama mereka.
Peran Orang Tua dalam Pengawasan Pendidikan di Rumah
Keterlibatan orang tua menjadi sangat penting dalam periode libur Ramadan. Roby mengingatkan agar orang tua tidak hanya menyerahkan sepenuhnya tugas agama kepada sekolah, tetapi juga ikut aktif dalam mengawasi dan membimbing anak-anak mereka.
“Jangan sampai liburan berakhir tanpa kegiatan yang berarti. Kita semua tahu, di zaman sekarang, tantangan pengawasan terhadap anak semakin besar,” ujar Roby.
Orang tua, dalam hal ini, diharapkan menjadi mitra bagi sekolah dalam mendidik anak-anak mereka di luar jam pelajaran.
Roby berharap kebijakan yang diterapkan oleh sekolah dapat didukung oleh keluarga di rumah, sehingga tujuan pembelajaran dan pengembangan karakter anak dapat tercapai secara maksimal.
Tantangan dan Dukungan terhadap Kebijakan Pemerintah
Meski ada berbagai pandangan terkait tiga skema libur Ramadan yang diajukan, Roby mengungkapkan pihak Kemenag Kabupaten Bogor tetap mendukung kebijakan apapun yang akan diterapkan oleh pemerintah.
Ia menekankan yang terpenting adalah tanggung jawab kolektif antara negara, pemerintah, orang tua, dan para guru dalam mendidik anak-anak bangsa.
“Terlepas dari pilihan skema libur, kita harus tetap memastikan bahwa setiap anak mendapatkan bimbingan yang baik. Pemerintah, orang tua, dan guru memiliki peran yang tak terpisahkan dalam proses pendidikan,” ujar Roby menutup percakapan. ***
Bagi HalamanFollow dan Baca Artikel lainnya di Google News atau whatsapp channel
====================================== ====================================















