
“Enggak usah THR dulu, yang penting potongan biaya dikurangi jadi 10 persen kayak dulu. Kalau potongan di bawah 20 persen, jadi 15 atau 10 persen, kita sudah merasa merdeka,” jelasnya.
Hal senada disampaikan pengemudi ojol lainnya, Eka (42), yang menilai tuntutan THR tidak relevan karena status pengemudi ojol adalah mitra, bukan karyawan tetap.
“Kita kan statusnya mitra, jadi menurut saya tidak masuk akal,” ujarnya.
Namun, Eka mendukung penghapusan sistem yang dianggap merugikan pengemudi, seperti sistem slot dan aceng yang mempengaruhi tarif dan potongan penghasilan mereka.
“Kalau sistem slot itu, misalnya kita kerja dengan hasil segini, potongannya bisa membuat ongkos dari Rp10 ribu jadi Rp5 ribu,” pungkasnya. ***
Follow dan Baca Artikel lainnya di Google News atau whatsapp channel
====================================== ====================================














