Pendaki Lilie Wijayanti Poegiono, Tewas Akibat Hipotermia di Puncak Carstensz Pyramid, Ini Kata Suami

Lilie Wijayanti Poegiono

BOGORTODAY.COM Lilie Wijayanti Poegiono (60), seorang pendaki gunung asal Kota Bandung, meninggal dunia akibat hipotermia saat mendaki Puncak Carstensz Pyramid, Papua, pada Sabtu (1/3/2025).

Janazah mendiang saat ini sedang dalam proses evakuasi oleh tim SAR gabungan untuk dibawa ke Timika, Papua, dan akan diterbangkan ke Jakarta untuk dimakamkan.

Suami mendiang, FH, mengungkapkan bahwa Lilie berangkat dari Bandung menuju Jakarta pada Sabtu (22/2/2025) untuk mengikuti acara, kemudian melanjutkan perjalanan ke Timika pada Minggu (23/2/2025) malam.

“Izinnya sudah lama, dia punya cita-cita satu lagi, Carstensz yang ketujuh,” ujar FH.

Lilie, yang dikenal sebagai pendaki berpengalaman, mempersiapkan pendakian ini selama satu tahun dengan melakukan latihan trekking dan climbing, serta memastikan peralatannya dalam kondisi baik.

FH menyatakan bahwa Lilie sudah lama memiliki hobi mendaki gunung sejak masa SMA dan mendaki bersama teman-teman dari komunitas pendaki.

Menurut FH, ia tidak khawatir karena melihat Lilie sudah sangat siap dengan kemampuan fisik dan perlengkapan yang memadai.

BACA JUGA :  Car Free Night Istimewa Akan Hadirkan Suasana Malam Penuh Warna

“Saya juga nganterin waktu latihan. Saya lihat dia oke, peralatannya juga oke,” katanya.

Namun, pada Sabtu pagi (1/3/2025), FH menerima kabar duka dari teman-teman sangkatan Lilie yang memberi tahu bahwa istrinya meninggal dunia akibat hipotermia di Gunung Carstensz sekitar pukul 06.00 WIB.

“Sekitar jam enam pagi ada yang telepon teman sangkatan, dia memberitahukan (kabar duka Lilie meninggal di Gunung Carstensz),” tutur FH.

Informasi terakhir yang diterima, jenazah Lilie telah dibawa turun ke base camp pada sore hari dan kemudian diterbangkan ke rumah sakit di Timika menggunakan helikopter. Rencananya, jenazah akan diterbangkan ke Jakarta untuk dimakamkan.

Lilie, yang berprofesi sebagai desainer, berasal dari Malang dan lahir pada 2 Oktober 1965. Ia tinggal di Jalan Mochamad Ramdhan, Kelurahan Cigereleng, Kecamatan Regol, Kota Bandung.

Di Instagram, Lilie dikenal dengan akun La Belle Femme (LBF), yang menurut FH berarti “Sri Pohaci” dalam bahasa Sunda.

FH mengenang Lilie sebagai sosok pejuang yang selalu mengejar cita-cita hingga tercapai.

BACA JUGA :  Warga Malasari Sumringah, Puncak HJB ke-544 Dongkrak Perekonomian

“Hampir apa pun, jika punya sesuatu yang dia pikir bisa dicapai, itu akan dikejar. Dia pejuang banget. Saya pun belajar dari dia dalam hal yang seperti ini,” kenang FH dengan penuh haru.

Selain Lilie, insiden ini juga merenggut nyawa seorang pendaki lainnya, Elsa Laksono, sementara tiga pendaki lainnya, Indira Alaika, Alvin Reggy Perdana, dan Saroni, berhasil selamat meskipun mengalami hipotermia.

Cuaca buruk yang ekstrem di atas gunung dengan ketinggian lebih dari 4.000 meter di atas permukaan laut menyebabkan pendaki-pendaki ini terjebak dalam kondisi yang sangat berbahaya.

Kejadian tragis ini menjadi pengingat tentang betapa ekstrem dan berbahayanya pendakian di gunung-gunung tinggi, terutama dengan cuaca yang bisa berubah drastis.

Semoga keluarga yang ditinggalkan diberi kekuatan, dan Lilie selalu dikenang sebagai seorang pejuang yang tidak pernah menyerah dalam mengejar impiannya.***

Follow dan Baca Artikel lainnya di Google News atau whatsapp channel

Bagi Halaman

Follow dan Baca Artikel lainnya di Google News atau whatsapp channel



======================================
====================================