BOGORTODAY.COM – Masjid Al-Atiqiah, di Kampung Kaum Pandak, Kelurahan Karadenan, Kecamatan Cibinong, Kabupaten Bogor tetap berdiri kokoh. Bukan sekadar bangunan tua, masjid ini adalah museum hidup yang menyimpan jejak peradaban masa lalu.
Konon, pada tahun 1667, seorang tokoh agama bernama Mbah Raden Syafei Bin Raden Nasib menancapkan tonggak pertama pembangunan masjid ini.
“Jika melihat tahunnya, masjid ini adalah saksi bisu awal mula peradaban Islam di Bogor,” ujar Dedi, Ketua Dewan Kemakmuran Masjid (DKM) Masjid Jami’ Al-Atiqiah, seolah membuka lembaran sejarah yang telah menguning.
Dahulu, tempat ini dikenal sebagai “kaum,” sebuah tempat perjamuan di tepi sungai Ciliwung. Namun, seiring waktu, namanya berubah menjadi Al-Atiqiah, yang berarti “merdeka” atau “barang antik,” sebuah penghormatan bagi peninggalan para pendahulu.
Sebelum direnovasi, empat tiang kokoh dari kayu Mataram menopang atap masjid, layaknya empat pilar yang menahan beban sejarah. Sayang, waktu tak kenal ampun, menggerogoti kayu-kayu itu hingga hancur. Kini, yang tersisa hanyalah kenangan, terukir dalam gambar hati dari kayu, sebuah simbol cinta yang tak lekang oleh waktu.
Masjid Al-Atiqiah bukan hanya tempat ibadah, tetapi juga rumah bagi ratusan benda pusaka, layaknya peti harta karun yang dijaga ketat. Tombak, keris, kujang, dan berbagai benda bersejarah lainnya tersimpan rapi di museum masjid, sebuah oasis di tengah gurun modernisasi.
“Lebih dari 100 pusaka kami miliki, dan itu pun belum semuanya terkumpul,” ungkap Dedi.
Follow dan Baca Artikel lainnya di Google News atau whatsapp channel
====================================== ====================================
















