Oleh: Heru B Setyawan (Pemerhati & Aktivis Pendidikan)
PEMERINTAH akan mendirikan Sekolah Rakyat yang dijadwalkan akan dimulai pada tahun ajaran 2025-2026.
Dalam rapat yang dipimpin oleh Presiden Prabowo Subianto pada Senin (10/3/2025) di lstana Merdeka Jakarta, jajaran Menteri Kabinet Merah Putih membahas berbagai aspek penting terkait program ini, termasuk lokasi, kurikulum, sarana-prasarana, serta mekanisme penerimaan siswa.
Mensos Gus Ipul menyebutkan,“Secara sarana dan prasarana, kami sudah siap di 41 Sentra dan Balai milik Kemensos. Kemudian di Jatim ada 9, terus ada 2 universitas dan 1 di Sumatera Barat. Total 53 lokasi yang sudah siap,” ucap Gus Ipul.
Sekolah Rakyat akan menyediakan pendidikan gratis berkualitas bagi anak-anak dari keluarga miskin dan miskin ekstrem.
Pemerintah menargetkan peserta didik berasal dari kategori desil 1 dan 2 dalam Data Tunggal Sosial Ekonomi Nasional (DTSEN).
Seleksi akan dilakukan secara bertahap, diawali dengan verifikasi status ekonomi, dilanjutkan dengan tes akademik.
Sekolah Rakyat akan dibuka untuk jenjang SD, SMP, dan SMA dengan standar pendidikan nasional. Selain mata pelajaran formal, kurikulum juga akan menekankan penguatan karakter, kepemimpinan, nasionalisme, dan keterampilan.
Sekolah Rakyat merupakan sekolah gratis 100 % dan seluruh kebutuhan siswa akan dipenuhi dalam pelaksanaannya.
Seragamnya, makan, semua gratis dan ada asramanya untuk tempat tinggal siswa. Sekolah Rakyat tersebut merupakan kolaborasi lintas kementerian/lembaga dan pemerintah daerah.
Menurut penulis Sekolah Rakyat harus berbeda kurikulumnya dengan sekolah biasa, karena ini sekolah bagi anak-anak dari keluarga miskin dan miskin ekstrem.
Kurikulumnya harus bersifat aplikatif, yaitu kurikulum yang bermanfaat untuk hidup peserta didik dan lebih banyak praktiknya dari pada teori.
Karena kurikulumnya aplikatif, maka gurunya juga guru yang punya kompetensi sebagai seorang praktisi.
Misal guru olah raganya bisa sebagai pelatih atau wasit, guru bahasa Indonesia sebagai penulis, guru IPA dan IPS sebagai peneliti, guru seni sebagai organ tunggal, selain jadi guru di sekolah juga jadi guru di bimbingan belajar, guru agama bisa menjadi ustadz dan lain-lain. Intinya guru praktisi itu punya kompetensi lain selain mengajar.
Sungguh luar biasa program ini jika terlaksana, penulis katakan mantul (mantap betul) dan top markotop, serta harus kita dukung dengan gas pol.
Tapi ingat tetap harus kita kritisi serta kita kawal, agar program ini berjalan dengan lancar, baik dan benar.
Jangan sampai program ini jadi korupsi berjamaah, seperti yang sering terjadi selama ini, bansos saja dikorupsi. Jayalah Indonesiaku.***
Follow dan Baca Artikel lainnya di Google News atau whatsapp channel
Bagi HalamanFollow dan Baca Artikel lainnya di Google News atau whatsapp channel
====================================== ====================================
















