Forever 21 Ajukan Kebangkrutan untuk Kedua Kalinya, Menghadapi Tekanan Bisnis yang Semakin Berat

“Peritel berbasis toko fisik seperti Forever 21 beroperasi dalam lingkungan yang sangat kompetitif, di mana biaya bisnis semakin mahal seiring dengan inflasi,” kata Sarah Foss, kepala hukum dan restrukturisasi di Debtwire, sebuah perusahaan penyedia data dan analisis keuangan.

Sejak awal 2024, setidaknya 20 perusahaan ritel lainnya juga telah mengajukan kebangkrutan, menunjukkan bahwa tren ini semakin meluas.

Langkah Likuidasi dan Masa Depan

Sebagai bagian dari proses kebangkrutan ini, Forever 21 kini menggelar diskon besar-besaran di seluruh tokonya di AS.

Perusahaan juga memastikan bahwa pelanggan yang memiliki kartu hadiah masih dapat menggunakannya dalam waktu 30 hari setelah pengajuan kebangkrutan.

Namun, kebangkrutan ini hanya berdampak pada operasi perusahaan di AS. Aktivitas Forever 21 di luar AS tidak terpengaruh oleh proses ini. Perusahaan juga membuka peluang bagi investor yang tertarik untuk membeli sebagian atau seluruh bisnisnya di pasar domestik.

BACA JUGA :  Apakah Boleh Olahraga Saat Haid? Ini Penjelasan dan Rekomendasinya

Ini bukan pertama kalinya Forever 21 mengajukan perlindungan kebangkrutan. Pada 2019, perusahaan sempat bangkit setelah diakuisisi oleh Sparc Group, sebuah perusahaan patungan antara Authentic Brands Group dan operator mal Simon Property serta Brookfield Asset Management.

Setelah keluar dari kebangkrutan, perusahaan ini sempat mencatat pendapatan US$2 miliar pada 2021, tetapi kembali mengalami kerugian sejak 2022.

Upaya terbaru Forever 21 untuk menyelamatkan bisnisnya melibatkan kemitraan dengan Shein pada 2023, di mana Shein membeli sebagian saham di Sparc Group dan membantu Forever 21 memasarkan produknya melalui platform Shein. Sayangnya, strategi ini tidak mampu menghentikan penurunan keuangan perusahaan.

Masa Depan Forever 21

Saat ini, Forever 21 berada di bawah kepemilikan Catalyst Brands, yang terbentuk pada Januari 2025 dari penggabungan Sparc Group dan JC Penney.

BACA JUGA :  iOS 27 Bawa Banyak Pembaruan: Apple Maps hingga Apple Music Ditingkatkan dengan AI dan Fitur Baru

Meskipun begitu, hak merek dagang dan kekayaan intelektual Forever 21 tetap berada di tangan Authentic Brands Group, yang berpotensi mempertahankan merek tersebut dalam bentuk lain di masa depan.

CEO Authentic Brands, Jamie Salter, bahkan mengakui bahwa mengakuisisi Forever 21 adalah “kesalahan terbesar” yang pernah ia lakukan, mencerminkan kesulitan besar yang dialami oleh perusahaan ini dalam mempertahankan posisinya di pasar.

Dengan begitu banyak tantangan yang dihadapi oleh Forever 21, masa depan merek ikonik ini masih penuh ketidakpastian. Namun, merek yang pernah menjadi simbol tren mode remaja ini kemungkinan akan terus bertransformasi, baik melalui restrukturisasi bisnis atau penyesuaian dengan pasar yang semakin berkembang.***

Follow dan Baca Artikel lainnya di Google News atau whatsapp channel

Halaman:
« 1 2 » Semua

Follow dan Baca Artikel lainnya di Google News atau whatsapp channel



======================================
====================================