AWAS JEBAKAN OFFSIDE DI SEPULUH TERAKHIR RAMADAN

Heru B Setyawan (Pemerhati & Aktivis Pendidikan)

Oleh : Heru B Setyawan (Pemerhati & Aktivis Pendidikan)

Pekan ini, ramadan jika dalam istilah sepak bola sudah memasuki masa grand final yaitu sampai ke 10 hari terakhir ramadan. Sepuluh malam terakhir ramadan adalah waktu terbaik untuk meningkatkan amal ibadah dengan lebih serius.

Sebab, di dalamnya terdapat malam yang sangat mulia dan berkah, ia lebih baik dari pada 1000 bulan yaitu Lailatul Qadar.

Malam istimewa ini menjadi momen yang paling dinanti oleh umat Islam di seluruh dunia. Kepastian serta keutamaan malam ini tertuang dalam firman Allah SWT, “Sesungguhnya Kami telah menurunkannya (Al-Qur’an) pada Lailatul Qadar. Dan tahukah kamu apakah Lailatul Qadar itu? Malam kemuliaan itu lebih baik dari pada seribu bulan.” (QS. Al-Qadr: 1-3)

Tapi jika kita mau jujur, sepuluh  malam terakhir ramadan ini di masyarakat Indonesia, justru semakin kendor semangat ibadahnya, beda saat awal ramadan pada gas pol ibadahnya.

Di sepak bola, offside adalah situasi di mana seorang pemain berada dalam posisi yang membuatnya tidak sah untuk menerima bola dari rekan setim karena posisinya terlalu dekat dengan garis gawang lawan, di belakang pemain terakhir dari tim lawan. Jika terjadi gol, tapi pemain dalam posisi offside, maka gol tersebut dianulir oleh wasit.

BACA JUGA :  Harga Honda CRF250 Series Naik, CRF250 Rally Kini Hampir Tembus Rp 100 Juta

Sama seperti puasa, jika kita puasa tapi melanggar aturan puasa ya puasa kita sia-sia, yaitu kita puasa tapi tidak dapat pahala, kecuali hanya haus dan lapar saja.

Harusnya malam Lailatul Qadar itu diisi dengan itikaf di masjid, tadarus Al Qur’an, sedekah, berzikir, berdoa, bershalawat, tasbih, istighfar, tahajud, dan melakukan amal soleh yang lain. Inilah jebakan offside di sepuluh malam terakhir ramadan, yaitu:

Kita tetap sibuk bekerja dan berdagang, seolah-olah kita mau hidup selamanya, tidak ada keinginan untuk mendekat kepada Allah, seperti melakukan amalan yang dianjurkan di atas. Bekerja juga ibadah, tapi ingat Allah tidak menyukai hal yang berlebihan.

BACA JUGA :  Pengemudi Microsleep, Toyota Fortuner Terguling di KM 30 Jagorawi

Selain bekerja kita juga butuh beribadah kepada Allah, agar hidup kita jadi tenang, bahagia dan sukses baik di dunia maupun di akhirat.

Jebakan offside lainnya adalah kita sibuk untuk persiapan mudik, sehingga juga melupakan melakukan amalan yang dianjurkan untuk menyambut malam Lailatul Qadar.

Mudik dengan pulang ke kampung halaman itu juga baik, dan manfaat dari mudik itu sangat banyak, karena mudik itu praktik dari silaturahmi. Dengan silaturahmi, maka akan memperpanjang usia, menambah rejeki, menyehatkan, menghilangkan ego, menambah kasih sayang dan lain-lain.

Biasanya saat mudik kita juga sulit untuk melakukan amalan-amalan yang dianjurkan di atas. Maka solusinya meski kita tetap bekerja, berdagang dan mudik, kita harus tetap melakukan amalan-amalan untuk menyambut malam Lailatul Qadar. Jayalah Indonesiaku.***

Follow dan Baca Artikel lainnya di Google News atau whatsapp channel

Bagi Halaman

Follow dan Baca Artikel lainnya di Google News atau whatsapp channel



======================================
====================================