
Keterlibatan Microsoft dalam Konflik Israel-Palestina
Aboussad juga mengutip sebuah laporan dari Associated Press (AP) mengenai kontrak senilai USD 133 juta antara Microsoft dan Kementerian Pertahanan Israel. Ia mengungkapkan bahwa sejak Maret 2024, penggunaan layanan Microsoft Azure dan AI dari OpenAI oleh Israel meningkat pesat, dengan volume data yang disimpan di server Microsoft juga mengalami lonjakan signifikan.
Menurut Aboussad, data yang dikumpulkan oleh militer Israel menggunakan Microsoft Azure termasuk informasi dari pengawasan massal, seperti mentranskrip, menerjemahkan, dan mengolah data komunikasi seperti panggilan telepon, SMS, dan pesan suara.
Selain itu, Aboussad menyebut bahwa Microsoft AI juga digunakan dalam proyek-proyek sensitif dan rahasia militer Israel, termasuk untuk melacak data terkait bank dan penduduk Palestina, yang semakin memperburuk situasi di Gaza.
“Microsoft AI juga dipakai untuk proyek sensitif dan rahasia militer Israel, termasuk mengincar bank dan data penduduk Palestina. Microsoft cloud dan AI juga membuat militer Israel semakin berbahaya di Gaza,” tulisnya.
Seruan untuk Tindakan Lebih Lanjut
Sebagai langkah lanjutan, Aboussad mengajak para pegawai Microsoft lainnya untuk mendukung petisi No Azure for Apartheid. Petisi ini menolak keterlibatan Microsoft dalam penulisan kode perangkat lunak yang digunakan untuk melakukan tindakan kekerasan dan pembunuhan.
Petisi tersebut menjadi seruan bagi pegawai Microsoft untuk menentang penggunaan produk dan teknologi yang dikembangkan perusahaan untuk tujuan militer yang dapat berujung pada pembunuhan massal dan pelanggaran hak asasi manusia.
Dampak Aksi Protes dan Reaksi Microsoft
Aksi protes yang dilakukan oleh Ibtihal Aboussad tentu mengundang banyak reaksi dari berbagai pihak. Beberapa pihak mendukungnya dengan menganggapnya sebagai bentuk keberanian untuk menentang ketidakadilan yang terjadi, sementara yang lain mungkin memandangnya sebagai tindakan yang kontroversial dan merugikan reputasi perusahaan.
Microsoft, hingga saat ini, belum memberikan pernyataan resmi mengenai protes tersebut. Namun, aksi Aboussad memperlihatkan adanya ketegangan internal di dalam perusahaan terkait etika penggunaan teknologi, khususnya yang berkaitan dengan konflik yang sensitif dan berdampak besar pada kehidupan banyak orang.
Protes yang dilakukan Ibtihal Aboussad di perayaan ulang tahun ke-50 Microsoft ini mengangkat isu yang sangat penting mengenai etika penggunaan teknologi dalam konteks militer dan konflik internasional.
Meskipun aksi protes ini sempat diakhiri dengan pemecatan dari acara, Aboussad tetap berusaha untuk menyuarakan ketidaksetujuannya kepada rekan-rekannya di Microsoft, dengan tujuan untuk mendorong perubahan dalam kebijakan perusahaan.
Aksi tersebut juga mengingatkan kita semua akan pentingnya pertimbangan etis dalam pengembangan dan penerapan teknologi, serta tanggung jawab yang dimiliki oleh perusahaan teknologi besar seperti Microsoft dalam menggunakan AI untuk tujuan yang tidak merugikan kemanusiaan.***
Follow dan Baca Artikel lainnya di Google News atau whatsapp channel
Follow dan Baca Artikel lainnya di Google News atau whatsapp channel
====================================== ====================================















