Fenomena Akiya di Jepang: Rumah Kosong Dijual Murah hingga Gratis, Tapi Ada Tantangannya

BOGORTODAY.COM Jepang kini tengah menghadapi fenomena unik yang semakin mencuri perhatian dunia, yakni akiya, sebutan untuk rumah-rumah kosong yang ditinggalkan pemiliknya.

Rumah-rumah ini banyak ditemukan di pedesaan dan bahkan ada yang ditawarkan dengan harga sangat murah, atau bahkan gratis, bagi siapa saja yang bersedia menempatinya. Namun, di balik harga murah tersebut, terdapat tantangan besar yang harus dihadapi.

Fenomena akiya menjadi perhatian serius pemerintah Jepang karena jumlah rumah kosong terus meningkat seiring menurunnya populasi dan urbanisasi.

Kaum muda Jepang cenderung meninggalkan kampung halaman dan pindah ke kota-kota besar untuk bekerja, meninggalkan rumah-rumah keluarga yang tidak lagi berpenghuni.

Satu dari Lima Rumah Kosong di Kota Uda

Contoh nyata terjadi di Kota Uda, Prefektur Nara. Yoshiji Misaki, pemimpin komunitas sekaligus Ketua Dewan Kota Desain Udano, melakukan survei dan menemukan bahwa hampir satu dari lima rumah di Uda dalam kondisi kosong. Ia mencatat bahwa populasi Uda telah menyusut hingga setengahnya dalam 60 tahun terakhir.

“Sebagian besar rumah akiya ini terlalu tua atau rusak parah. Banyak pula yang berubah menjadi tempat pembuangan sampah karena tak kunjung menemukan pembeli,” ungkap Misaki.

BACA JUGA :  Piala AFF 2026 Jadi Ajang Pembuktian Kualitas Pemain Domestik Racikan John Herdman

Beberapa pakar bahkan memprediksi bahwa jumlah akiya di Jepang akan mencapai lebih dari 23 juta unit pada tahun 2038, atau sekitar satu dari tiga rumah.

Upaya Pemerintah Mencegah Ledakan Akiya

Menanggapi situasi ini, pemerintah lokal mulai mengambil tindakan. Takahito Suzuki, Kepala Promosi Kebijakan Kota Uda, menyebutkan bahwa pemerintah tengah menyeleksi akiya mana yang masih layak direnovasi, dan mana yang harus dihancurkan karena berisiko roboh.

Kota Uda menawarkan hibah hingga 2 juta yen (sekitar Rp 263 juta) bagi warga yang ingin merenovasi rumah kosong sebagai bagian dari program peremajaan kota.

Selain itu, beberapa kota mulai membentuk bank akiya, semacam daftar rumah kosong yang siap dijual atau disewa kembali dengan harga murah.

Namun, Suzuki menambahkan bahwa belum ada regulasi nasional yang mengatur secara spesifik pemanfaatan kembali rumah-rumah ini, sehingga pemerintah lokal harus berinisiatif sendiri dalam pengelolaannya.

Menarik Minat Pembeli Asing

Fenomena akiya juga menarik minat warga negara asing. Salah satunya adalah Coline Emilie Aguirre, seorang fotografer asal Prancis, yang pindah ke Uda dan membeli sebuah akiya seharga US$ 33.000 atau sekitar Rp 555 juta—hampir setengah dari harga rumah baru di daerah tersebut.

BACA JUGA :  PB Porprov Kota Bogor Matangkan SOP Pembagian Tugas Tiap Bidang

Namun, Aguirre memperingatkan bahwa harga murah bisa menyesatkan. “Saya telah menginvestasikan hingga US$ 60.000 (sekitar Rp 1 miliar) hanya untuk renovasi. Dan saya masih setengah jalan setelah tiga tahun tinggal di sini,” katanya.

Akiya miliknya belum tersambung ke sistem saluran air dan pembuangan, sehingga membutuhkan biaya tambahan yang signifikan. Meski demikian, Aguirre tetap optimis dan berencana membuka guest house setelah renovasi selesai.

Masa Depan Akiya: Tantangan dan Harapan

Fenomena akiya mencerminkan tantangan demografi yang dihadapi Jepang saat ini—penduduk yang menua, urbanisasi yang masif, dan tradisi keluarga yang berubah.

Namun, dengan strategi yang tepat, rumah-rumah kosong ini juga bisa menjadi peluang, baik bagi warga lokal maupun pendatang asing, untuk memulai hidup baru sambil membantu merevitalisasi desa-desa yang nyaris ditinggalkan.

Akiya bukan hanya rumah kosong. Ia adalah simbol perubahan sosial, dan mungkin, juga awal dari babak baru kehidupan di negeri matahari terbit.***

Follow dan Baca Artikel lainnya di Google News atau whatsapp channel

Bagi Halaman

Follow dan Baca Artikel lainnya di Google News atau whatsapp channel



======================================
====================================