BOGORTODAY.COM – Di tengah memanasnya perang dagang antara Amerika Serikat (AS) dan China, Samsung disebut sebagai salah satu perusahaan teknologi global yang justru bisa mendapatkan keuntungan strategis.
Sebaliknya, Apple—kompetitor terdekat Samsung—berada dalam posisi yang lebih rentan akibat ketergantungan besar pada China sebagai pusat perakitan produknya.
Ketegangan perdagangan antara dua negara ekonomi terbesar dunia ini kembali meningkat setelah AS mengenakan tarif impor baru terhadap berbagai produk dari China, yang mencapai 145 persen, dan China mengancam akan melakukan tindakan balasan terhadap negara yang mendukung kebijakan perdagangan AS.
Perbedaan Strategis: Lokasi Produksi
Poin krusial yang membedakan Apple dan Samsung adalah lokasi perakitan perangkat mereka. Produk unggulan Apple, seperti iPhone, sebagian besar masih dirakit di China.
Menurut data April 2025 dari Wedbush Securities, sekitar 90 persen produksi iPhone masih berpusat di negara tersebut, meskipun Apple telah berupaya mengalihkan sebagian produksinya ke India dan Vietnam.
Sebaliknya, Samsung sudah sejak lama mengurangi ketergantungannya pada China. Pabrik ponsel terakhir Samsung di China ditutup pada 2019. Kini, sebagian besar produksi smartphone Samsung dilakukan di Vietnam, India, Korea Selatan, dan Brasil.
Hal ini menjadikan Samsung relatif lebih aman dari dampak langsung tarif AS terhadap barang-barang dari China.
“Keuntungannya adalah, ya, mereka tidak menghadapi angka gila seperti yang kita hadapi saat ini,” kata Gerrit Schneemann, analis senior di Counterpoint Research, Rabu (23/4/2025).
Apple Bisa Kena Dampak Harga Tinggi
Akibat ketergantungan Apple pada China, analis memperkirakan harga produk Apple bisa melonjak tajam. Analis dari UBS memperkirakan bahwa iPhone 16 Pro Max yang dirakit di China dapat mengalami kenaikan harga hingga US$800 jika tarif dikenakan secara penuh, meski saat ini smartphone masih termasuk dalam pengecualian tarif.
Namun, tekanan terhadap Apple tetap besar, karena banyak produk teknologi lainnya—seperti konsol game dan earbud—tidak termasuk dalam daftar pengecualian tarif, dan proses produksi komponen masih sangat bergantung pada China.
Keunggulan Samsung: Produksi dan Komponen
Samsung dinilai memiliki posisi strategis karena terintegrasi secara vertikal, artinya mereka tidak hanya memproduksi smartphone, tetapi juga memproduksi komponen penting seperti layar OLED, chip memori, dan prosesor.
“Samsung mungkin memiliki sedikit keuntungan dalam arti bahwa mereka adalah salah satu dari sedikit perusahaan di dunia yang terintegrasi secara vertikal,” ujar Ben Barringer, analis teknologi global di Quilter Cheviot.
Dengan model bisnis seperti ini, Samsung memiliki fleksibilitas lebih tinggi dalam menghadapi fluktuasi harga dan tarif, serta tidak terlalu tergantung pada satu lokasi produksi.
Perang Tarif Belum Usai
Pada 21 April lalu, ketegangan semakin meningkat ketika Beijing mengeluarkan ancaman akan membalas tindakan negara-negara yang mendukung kebijakan perdagangan AS.
Di sisi lain, pemerintahan Trump mengumumkan jeda 90 hari terhadap sebagian besar tarif, kecuali untuk China.
Dalam catatan yang dirilis pada 20 April, analis Wedbush yang dipimpin Dan Ives menyebut bahwa negosiasi antara AS dan China perlu dilakukan “secepatnya” demi stabilitas ekonomi dan pasar teknologi global.
“Jika tidak, tarif dan perang dagang ini akan menimbulkan kerusakan besar pada pertumbuhan sekaligus meningkatkan inflasi… dan meninggalkan dunia teknologi dengan banyak pertanyaan dan tidak ada jawaban untuk merencanakan strategi masa depan mereka,” tulis Wedbush.***
Follow dan Baca Artikel lainnya di Google News atau whatsapp channel
Bagi HalamanFollow dan Baca Artikel lainnya di Google News atau whatsapp channel
====================================== ====================================
















