
“Ini ada UMKM dari Kemang, Parung, dan ada dari perguruan-perguruan silat, saya juga membawa UMKM asal Leuwiliang dan alhamdulillah sangat antusias karena ini juga bagian dari bakti kita sebagai perguruan kepada masyarakat,” ujar Daswara.
Dengan melibatkan UMKM, acara ini tidak hanya menjadi wadah bagi pesilat untuk berkumpul, tetapi juga memberi kesempatan kepada pelaku usaha kecil untuk memperkenalkan produk mereka ke lebih banyak orang. Hal ini diharapkan bisa memberikan dampak positif bagi perekonomian lokal.
Dalam kesempatan ini, Daswara juga menyampaikan bahwa Kampung Silat Jampang, yang kini memasuki usia ke-17, terdiri dari 64 perguruan silat yang terbagi dalam lima aliran, yakni Cimande, Seura, Syahbandar, Cikalong, dan Betawi.
Ia berharap di usianya yang semakin matang, pemerintah dapat memberikan regulasi yang mendukung perkembangan pencak silat dan budaya lokal.
“Harapan untuk Kampung Silat Jampang di usianya yang ke-17 adalah selama ini belum ada regulasi yang sifatnya memberikan peluang kepada kita, terutama anak didik, kenapa mereka, karena merekalah yang harus jadi regenerasi dan menjadi estafet mewarisi budaya dan tradisi ini,” tutup Daswara.
Acara Lebaran Jawara ini menjadi bukti nyata bahwa pencak silat bukan hanya olahraga, tetapi juga bagian penting dari budaya Indonesia yang harus dilestarikan.
Melalui kegiatan seperti ini, silaturahmi antara pesilat dan masyarakat terjalin erat, dan budaya silat bisa terus berkembang dan memberikan dampak positif bagi generasi mendatang.
Kampung Silat Jampang berharap ke depan, kegiatan serupa dapat lebih berkembang dan mendapat dukungan dari berbagai pihak, termasuk pemerintah, untuk memajukan pencak silat sebagai warisan budaya bangsa yang terus hidup dan berkembang.***
Follow dan Baca Artikel lainnya di Google News atau whatsapp channel
Follow dan Baca Artikel lainnya di Google News atau whatsapp channel
====================================== ====================================















