Gedung Kesenian Kabupaten Bogor Akan Disulap, Pengamat: Bangun Ekosistem Seni, Bukan Sekadar Bangunan

“Kalau bikin bangunan jangan terlalu megah dengan banyak show up lampu, supaya tidak menjadi beban biaya listrik, kecuali kalau ada subsidi sosial dari PLN,” pesannya.

Persoalan revitalisasi tidak berhenti di ranah fisik. Putra juga mengkritisi kebijakan tarif sewa penggunaan gedung. Ia mempertanyakan logika di balik Peraturan Daerah yang mewajibkan masyarakat membayar Rp2 juta untuk penggunaan gedung selama lima jam, terutama bila pengelolaan tetap berada di tangan pemerintah.

BACA JUGA :  Meriahkan KaBogor Fest, Tirta Kahuripan Dekatkan Pelayanan dan Perluas Akses Air Bersih bagi Masyarakat

“Kalau dikelola langsung oleh Disparbud, kenapa masyarakat harus tetap bayar sewa? Seharusnya, jika gedung kesenian ini memang dikelola pemerintah, tidak ada biaya sewa,” katanya heran.

Lebih jauh lagi, Putra menyoroti pentingnya pemberdayaan pelaku seni. Baginya, membangun gedung saja tidak cukup tanpa membangun ekosistem budaya yang hidup di dalamnya.

Dengan demikian, Putra mendorong pemerintah untuk melibatkan pamong budaya dan bekerja sama dengan Dinas Pendidikan guna memperkuat pendidikan seni di kalangan pelajar. Untuk itu, ia menyarankan agar orang-orang di bidang kebudayaan diajak duduk bersama.

BACA JUGA :  Jaro Ade Enggan Tempuh Jalur Hukum, Anggap Pendemo Bagian Keluarga

Intinya, menurut Putra, pembangunan saja tidak cukup, melainkan harus disertai dengan pemahaman tentang pengelolaan dan strategi agar gedung tersebut tetap ramai.

“Jangan cuma gunannya saja yang diberi anggaran untuk bagus,” tuntasnya.***

Follow dan Baca Artikel lainnya di Google News atau whatsapp channel

Halaman:
« 1 2 » Semua

Follow dan Baca Artikel lainnya di Google News atau whatsapp channel



======================================
====================================