Oleh : Herman Lasrin (Kasek SMA Kosgoro Kota Bogor)
SETIAP tanggal 2 Mei, bangsa ini berhenti sejenak untuk memberi ruang pada renungan bersama: ke mana arah pendidikan kita melaju? Di tahun 2025 ini, tema Hari Pendidikan Nasional “Partisipasi Semesta Wujudkan Pendidikan Bermutu untuk Semua” hadir bukan sekadar slogan seremonial, melainkan sebagai panggilan kebangsaan.
Sebuah ajakan menyeluruh bagi seluruh elemen masyarakat untuk kembali menggenggam erat semangat yang dulu ditanamkan oleh Bapak Pendidikan Nasional kita, Ki Hajar Dewantara.
Potret pendidikan kita saat ini adalah mosaik harapan dan tantangan. Di satu sisi, akses pendidikan semakin terbuka luas.
Sekolah berdiri hingga ke pelosok negeri, kurikulum disusun untuk menyesuaikan zaman, dan teknologi mulai menjembatani ruang dan waktu belajar.
Namun di sisi lain, kita masih menyaksikan kesenjangan akses antara kota dan desa, kasus kekerasan di lingkungan sekolah, serta rendahnya angka partisipasi perguruan tinggi yang baru menyentuh sekitar 10 persen dari total penduduk usia produktif.
Apakah ini yang dulu dimimpikan oleh Ki Hajar Dewantara? Ki Hajar tidak pernah membayangkan pendidikan sebagai ruang yang hanya dipenuhi hafalan, target angka, atau perburuan gelar. Baginya, pendidikan adalah upaya memerdekakan.
Ing ngarso sung tulodo, ing madyo mangun karso, tut wuri handayani—sebuah filosofi yang menempatkan guru bukan sebagai penguasa, melainkan pembimbing jiwa.
Seorang pendidik harus memberi teladan, menumbuhkan semangat, dan mendorong dari belakang agar anak didik tumbuh sesuai kodratnya: menjadi manusia seutuhnya, bukan sekadar pencetak nilai tinggi.
Dalam konteks hari ini, tema “Partisipasi Semesta” adalah refleksi dari semangat itu. Pendidikan tidak bisa lagi dibebankan sepenuhnya pada pundak sekolah dan guru.
Ayah, ibu, pemuka agama, tokoh masyarakat, pemerintah, dunia usaha, hingga media—semuanya adalah bagian dari ekosistem yang membentuk generasi bangsa. Hanya dengan bergerak bersama, kita bisa melahirkan pendidikan yang benar-benar bermutu untuk semua.
Pendidikan sejati adalah tentang membentuk manusia yang berpikir merdeka, berperilaku beradab, dan berhati nurani. Maka, inilah saatnya kita menyalakan kembali obor Ki Hajar Dewantara.
Obor yang menyala tidak hanya di ruang kelas, tapi di setiap rumah, di setiap komunitas, di setiap keputusan kebijakan.
Mari kita bergerak, tidak hanya memperingati, tetapi menyalakan kembali cita-cita luhur pendidikan nasional.
Karena bangsa yang besar bukan diukur dari banyaknya lulusan, tetapi dari seberapa dalam pendidikan membentuk watak dan kemanusiaan rakyatnya.
Follow dan Baca Artikel lainnya di Google News atau whatsapp channel
====================================== ====================================
















