Menyalakan Semangat Ki Hajar Dewantara

Potret sekolah-sekolah di Indonesia hari ini adalah cerminan dari realitas yang kompleks. Di satu sisi, kemajuan teknologi dan reformasi kurikulum menghadirkan wajah pendidikan yang lebih terbuka dan adaptif terhadap zaman.

Kita melihat banyak sekolah mulai menerapkan pembelajaran berbasis proyek, menggunakan platform digital, dan mengedepankan pendekatan yang lebih humanis.

Namun di sisi lain, masih ada sekolah yang terjebak dalam keterbatasan infrastruktur, minimnya akses internet, serta beban administrasi yang mengekang kreativitas guru.

Di kota-kota besar, anak-anak belajar dengan proyektor dan tablet; sementara di pelosok negeri, masih ada anak-anak yang berjalan kaki berkilometer hanya untuk sampai di ruang kelas beratap bocor.

Ini adalah kenyataan yang tak bisa kita tutupi: pendidikan kita belum merata, belum benar-benar memerdekakan semua anak bangsa.

Dalam situasi seperti ini, harapan masyarakat terhadap dunia pendidikan tetaplah tinggi. Orang tua, guru, dan para pelajar sendiri mendambakan sebuah sistem pendidikan yang tidak hanya mencetak angka kelulusan, tetapi juga membentuk manusia berkarakter dan berdaya saing.

BACA JUGA :  Rudy Susmanto Genjot Infrastruktur Kabupaten Bogor, Integrasikan Ekonomi dan Kelestarian Lingkungan

Mereka ingin sekolah menjadi rumah kedua yang aman dan menyenangkan, tempat anak-anak merasa dihargai, didengarkan, dan diberi ruang untuk tumbuh sesuai potensinya.

Guru diharapkan bukan sekadar pelaksana kurikulum, tetapi sosok inspiratif yang mampu menyalakan semangat belajar dan membentuk akhlak.

Di tengah berbagai tantangan, masyarakat berharap agar semua pihak—pemerintah, sekolah, dan lingkungan sekitar—bisa bersinergi mewujudkan pendidikan yang berkualitas, adil, dan merata.

Peringatan Hari Pendidikan Nasional tahun ini, dengan tema “Partisipasi Semesta Wujudkan Pendidikan Bermutu untuk Semua,” menjadi ajakan moral bagi kita semua untuk menyatukan langkah.

Ki Hajar Dewantara pernah mengajarkan bahwa pendidikan sejati adalah yang menuntun anak-anak menuju keselamatan dan kebahagiaan setinggi-tingginya, baik sebagai manusia maupun anggota masyarakat.

BACA JUGA :  ONIC vs Geek Fam Panaskan Final Upper Bracket MPL ID S17, Tiket MSC 2026 Jadi Rebutan

Maka sudah sepatutnya kita menyalakan kembali semangat itu. Pendidikan tidak boleh lagi berjalan sendiri di ruang kelas yang sunyi; ia harus didukung oleh seluruh unsur bangsa.

Pemerintah menyediakan kebijakan yang berpihak, guru mengajar dengan hati, orang tua terlibat aktif, dan masyarakat peduli pada lingkungan belajar.

Hanya dengan partisipasi semesta itulah, pendidikan bermutu benar-benar menjadi milik semua. Inilah harapan kita hari ini dan untuk masa depan: membangun pendidikan yang tidak hanya mendidik kepala, tetapi juga menyentuh hati dan membentuk jiwa. Selamat Hari Pendidikan Nasional 2025. Semoga semangat Tut Wuri Handayani tak pernah padam. ***

Follow dan Baca Artikel lainnya di Google News atau whatsapp channel

Halaman:
« 1 2 » Semua

Follow dan Baca Artikel lainnya di Google News atau whatsapp channel



======================================
====================================