Dibangun Dengan Anggaran Miliaran, Pasar Leuwisadeng Bogor Terbengkalai Jadi Sarang Kelelawar

BOGORTODAY.COM – Kondisi Pasar Leuwisadeng yang berada di Jalan Raya Kosol, Desa Sadeng, Kecamatan Leuwisadeng, Kabupaten Bogor, semakin memprihatinkan.

Pasar yang diresmikan pada tahun 2018 dengan anggaran pembangunan mencapai Rp3 miliar itu kini terbengkalai, tak terurus, dan sepi dari aktivitas perdagangan.

Padahal, pasar tersebut dibangun dengan harapan dapat menjadi pusat ekonomi baru yang mendongkrak aktivitas perdagangan masyarakat di wilayah barat Kabupaten Bogor.

Namun sayangnya, hampir delapan tahun sejak diresmikan, bangunan pasar lebih sering terlihat kosong dan tak terpakai.

Pantauan di lokasi menunjukkan bahwa beberapa bagian bangunan pasar mulai mengalami kerusakan. Atap bocor, dinding mengelupas, serta lantai yang berdebu dan licin karena jarang dibersihkan. Fasilitas umum seperti toilet dan saluran air pun rusak terbengkalai.

BACA JUGA :  7 Ciri Seseorang yang Memiliki Kesan Berkelas Tanpa Harus Mewah

Warga sekitar pun menyayangkan dengan kondisi pasar Leuwisadeng seperti ditinggalkan pemerintah tersebut. Bukannya ramai oleh pedagang, kondisi pasar hanya terlihat banyaknya kelelawar bergantungan.

“Kondisi yang sangat di sayangkan, bangunan sudah mulai rusak, bukanya ramai oleh pedagang malah ramai oleh binatang kelelawar yang bergelantungan di atap bangunan,”kata M Fahri, Senin (6/5/2025).

BACA JUGA :  Masuki Tahun Ke-11, Bogor Hujan Trail 2026 Sukses Sedot Antusiasme Ribuan Rider Nusantara hingga Mancanegara

Hingga kini, belum ada kejelasan dari Pemerintah Kabupaten Bogor terkait rencana penataan atau pemanfaatan kembali Pasar Leuwisadeng.

Warga berharap ada upaya serius untuk merevitalisasi pasar agar aset daerah tersebut tidak terus menjadi proyek mangkrak.

“Kami ingin pasar ini difungsikan dengan baik, karena sayang uang rakyat tiga miliar hanya jadi bangunan kosong,”ungkap Fahri.

kasus Pasar Leuwisadeng mencerminkan persoalan klasik pembangunan infrastruktur yang tidak berbasis kebutuhan dan partisipasi warga. Tanpa kajian lokasi, akses, dan pola perdagangan lokal, pembangunan semacam ini rentan mubazir.

Bagi Halaman

Follow dan Baca Artikel lainnya di Google News atau whatsapp channel



======================================
====================================