Harga Minyak Mentah Dunia Stabil Pasca Penurunan Terkait Keputusan OPEC+

Harga Minyak Mentah Dunia Stabil Pasca Penurunan Terkait Keputusan OPEC+

BOGORTODAY.COM – Harga minyak mentah dunia cenderung stabil pada perdagangan Selasa (6/5), setelah sebelumnya mengalami penurunan tajam yang membawa harga minyak ke level terendah dalam empat tahun pada sesi sebelumnya.

Penurunan harga minyak pada hari Senin dipicu oleh keputusan OPEC+ untuk mempercepat kenaikan produksi.

Keputusan tersebut menambah kekhawatiran pasar akan potensi kelebihan pasokan minyak dunia, yang dapat memperburuk kondisi pasar di tengah kekhawatiran terhadap kebijakan tarif AS yang berpotensi menggerus permintaan minyak global.

Menurut laporan Reuters, pada sesi perdagangan Selasa, kontrak berjangka minyak Brent naik tipis sebesar 10 sen menjadi US$60,33 per barel, sementara minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) AS juga naik 10 sen menjadi US$57,23 per barel.

Kenaikan harga ini terjadi setelah kedua patokan tersebut sempat ditutup pada level terendah sejak Februari 2021 pada hari sebelumnya.

Keputusan OPEC+ untuk Mempercepat Kenaikan Produksi

Pada hari Sabtu, OPEC+ yang terdiri dari negara-negara penghasil minyak utama, sepakat untuk mempercepat rencana kenaikan produksi minyak mereka.

Keputusan ini mencakup penambahan produksi sebesar 411 ribu barel per hari (bpd) untuk bulan Juni 2025.

BACA JUGA :  Kabar Gembira, Perumda Tirta Pakuan Gelar Promo Pasang Baru Murah Meriah di Momentum HJB

Kenaikan produksi tersebut diambil setelah OPEC+ mengurangi produksi lebih dari 2 juta bpd pada tahun 2022 sebagai bagian dari upaya untuk mengatasi penurunan harga minyak.

Dengan tambahan produksi tersebut, total kenaikan produksi untuk bulan April, Mei, dan Juni diperkirakan mencapai 960 ribu bpd, yang setara dengan sekitar 44 persen dari total pengurangan produksi yang telah disepakati sejak 2022.

Langkah ini berpotensi meningkatkan pasokan minyak global dan memperburuk tekanan pada harga minyak yang sudah berada pada level yang cukup rendah.

Dampak Kebijakan Ekonomi AS terhadap Permintaan Minyak

Di sisi lain, produsen minyak serpih AS, Diamondback Energy, baru-baru ini mengurangi proyeksi produksinya untuk tahun 2025.

Hal ini disebabkan oleh ketidakpastian ekonomi global dan dampak dari peningkatan pasokan yang terjadi akibat kebijakan OPEC+. Mereka menyatakan bahwa situasi ini telah membuat produksi minyak AS mencapai titik kritis.

Menteri Keuangan AS, Scott Bessent, juga mengomentari kebijakan tarif, pemotongan pajak, dan deregulasi yang diterapkan oleh Presiden Donald Trump, yang diharapkan dapat mendorong investasi jangka panjang dalam ekonomi AS.

BACA JUGA :  7 Kebiasaan Orang Tua yang Tanpa Disadari Bisa Menghambat Kemandirian Anak

Meskipun ada ketidakpastian terkait tarif perdagangan, Bessent yakin pasar keuangan AS akan mampu bertahan dari gejolak ekonomi jangka pendek.

Kebijakan Suku Bunga The Federal Reserve

Selain itu, keputusan The Federal Reserve AS mengenai suku bunga acuan juga menjadi perhatian para pelaku pasar.

Diharapkan bahwa bank sentral AS akan mempertahankan suku bunga acuan dalam pengumuman yang dijadwalkan pada Rabu (7/5).

Keputusan ini akan mempengaruhi dinamika ekonomi global, khususnya terkait dengan inflasi dan permintaan energi.

Harga minyak mentah dunia mengalami stabilisasi setelah penurunan tajam yang disebabkan oleh kebijakan OPEC+ terkait peningkatan produksi.

Namun, ketidakpastian ekonomi global, termasuk kebijakan tarif perdagangan AS dan kebijakan moneter The Federal Reserve, masih memberikan tantangan bagi pasar minyak global.

Untuk saat ini, pengaruh keputusan OPEC+ dan faktor-faktor ekonomi lainnya akan terus mempengaruhi pergerakan harga minyak dalam jangka pendek.***

Follow dan Baca Artikel lainnya di Google News atau whatsapp channel

Bagi Halaman

Follow dan Baca Artikel lainnya di Google News atau whatsapp channel



======================================
====================================