BOGORTODAY.COM – Perjalanan penuh makna tengah dijalani 36 biksu Thudong yang telah menempuh perjalanan spiritual selama empat bulan berjalan kaki dari Thailand menuju Candi Borobudur, Kabupaten Magelang, Jawa Tengah.
Rombongan biksu ini menapaki ribuan kilometer lintas negara demi mengikuti prosesi Waisak 2025 yang akan digelar pada 10 Mei mendatang.
Dalam perjalanannya, para biksu menghadapi berbagai rintangan fisik dan lingkungan. Ketua Umum Thudong 2025 Committee, Welly Widadi, menyebut banyak biksu mengalami cedera seperti kuku jari yang copot hingga luka di kaki yang harus mereka jahit sendiri tanpa bantuan medis.
“Sepanjang perjalanan, kuku yang lepas sudah banyak sekali. (Luka) kaki pun ada yang sampai dijahit sendiri pakai jarum dan benang sendiri, kalau sudah tidak menemui medis,” ujar Welly, Jumat (9/5/2025).
Welly menjelaskan bahwa saat melintasi Thailand dan Malaysia, rombongan biksu Thudong kerap melewati kawasan hutan dan perkebunan yang minim akses kesehatan. Namun kondisi itu tidak menyurutkan tekad mereka untuk tetap melanjutkan perjalanan menuju tanah suci umat Buddha di Indonesia.
Meski menghadapi cuaca ekstrem dan keterbatasan fasilitas, para biksu tetap menunjukkan keteguhan hati.
“Biksu ini sebagian besar sudah dua-tiga kali ikut thudong di Indonesia. Kalau di Thailand, Nepal, India, mereka juga sudah sering melakukan perjalanan serupa,” imbuh Welly.
Menariknya, para biksu mengaku justru lebih menikmati perjalanan di Indonesia. Cuaca yang relatif bersahabat serta sambutan masyarakat yang hangat menjadi pelipur lelah mereka.
“Di Indonesia tidak ada kendala besar. Memang panas dan hujan, tetapi para bante (biksu) sangat bahagia melihat antusiasme masyarakat sepanjang perjalanan,” tambahnya.
Rombongan biksu juga sempat disambut di Kantor Gubernur Jawa Tengah di Semarang pada Rabu (7/5) lalu, sebelum melanjutkan perjalanan ke Ungaran, Ambarawa, Magelang Kota, dan akhirnya Candi Borobudur.
Untuk menjamin keselamatan rombongan, pengamanan ketat diberikan oleh TNI, Polri, serta Laskar Macan Ali dari Jakarta hingga ke Magelang.
“Rencananya, kami akan finis di Candi Borobudur tanggal 10 Mei. Dari Magelang Kota kami langsung menuju ke Candi Borobudur dan mengikuti prosesi naik stupa,” tutur Welly.
Perjalanan Thudong ini menjadi simbol keteguhan batin, kedamaian, dan komitmen spiritual yang kuat, sekaligus mempererat hubungan budaya dan keagamaan antarnegara di Asia Tenggara.***
Follow dan Baca Artikel lainnya di Google News atau whatsapp channel
Bagi HalamanFollow dan Baca Artikel lainnya di Google News atau whatsapp channel
====================================== ====================================















