
Oleh : Heru B Setyawan (Pemerhati & Aktivis Pendidikan)
BUKAN Kang Dedi Mulyadi (KDM) namanya jika tidak membuat kontroversi, inilah kebijakan KDM yang juga menuai pro dan kontra, yaitu KDM mengirim pelajar nakal ke barak militer, setelah mendapat ijin dari orang tuanya.
Pengertian nakal di sini adalah pelajar yang suka tawuran, balapan liar, miras, narkoba dan sifat negatif yang lain. Inilah suara yang kontra, yaitu:
Pertama, Menteri Koordinator (Menko) Bidang Pemberdayaan Masyarakat Abdul Muhaimin Iskandar atau Cak Imin tak setuju dengan upaya KDM yang mengirimkan siswa nakal ke barak militer. Menurutnya, guna mendidik dan mendisiplinkan anak tidak perlu sampai melibatkan militer.
Kedua, Wakil Ketua Komisi X DPR RI Lalu Hadrian Irfani meminta pengkajian mendalam sebelum pemerintah pusat membawa kebijakan pendidikan ala barak militer milik Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi ke tingkat nasional.
Menurutnya,”Baik dari segi efektivitas, kesiapan infrastruktur, hingga kesesuaian dengan prinsip pendidikan nasional yang humanis dan inklusif,” ujar Lalu.
Beliau menambahkan model pendidikan ala barak militer ini, mungkin bisa menjadi pelengkap dari sistem pengajaran formal. Sedang pendapat yang pro adalah:
- Menteri Hak Asasi Manusia Natalius Pigai menegaskan bahwa kebijakan Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi mengenai pendidikan bagi siswa bermasalah di barak militer tidak bertentangan dengan prinsip-prinsip HAM. Ia menyatakan bahwa program tersebut tidak termasuk dalam kategori hukuman fisik atau kekerasan terhadap anak.
- Kasek SMA Kosgoro Herman Lasrin mengatakan, hal ini bisa dilakukan sekiranya orang tua sudah bekerjasama dengan sekolah dan siswa yang bersangkutan tidak kunjung berubah, padahal pembinaan sudah dilakukan berulang kali
Tahapan ini jika sudah dilewati semua, saya pikir saat ini menjadi solusi, toh di barak itu anak-anak diberikan pembinaan dan juga tetap belajar. Karena menunggu solusi yang tak kunjung hadir, makanya KDM mengambil cara seperti ini.
Masih ada kesempatan bagi orang-orang yang memang peduli dengan anak bangsa, duduk bersama, mencari solusi dan tidak saling menyalahkan. Berapa banyak diantara mereka yang katanya pakar, semua terdiam tak berdaya apalagi bersuara.
Menurut penulis, baiknya selain dilatih disiplin di barak militer juga disentuh hatinya dengan dimasukkan di Pondok Pesantren.
Sehingga akan seimbang antara pendidikan militer dengan pendidikan religius, meski baik di barak militer dan Ponpes itu juga sama-sama ada kedua sifat pendidikan tersebut, tapi jelas nuansanya berbeda.
Apa yang dilakukan KDM adalah program pemerintah, maka harus kita kritisi jika ada kekurangannya dan kita apresiasi jika ada baiknya. Jayalah Indonesiaku. ***
Follow dan Baca Artikel lainnya di Google News atau whatsapp channel
Bagi HalamanFollow dan Baca Artikel lainnya di Google News atau whatsapp channel
====================================== ====================================















