BOGORTODAY.COM – Pabrikan otomotif asal Jepang, Nissan, tengah menghadapi krisis terparah dalam dua dekade terakhir.
Setelah terus merugi akibat penurunan penjualan global, Nissan kini dikabarkan akan melakukan pemutusan hubungan kerja (PHK) terhadap 20.000 karyawan di seluruh dunia.
Kabar ini pertama kali dibocorkan oleh media Jepang NHK, yang menyebut bahwa jumlah karyawan yang terdampak PHK mencakup sekitar 15% dari total tenaga kerja Nissan secara global.
Penjualan Anjlok hingga 94%, Rencana PHK Membesar
Sinyal buruk sebenarnya sudah terlihat sejak November 2024, ketika Nissan mengumumkan rencana awal PHK terhadap 11.000 karyawan.
Langkah tersebut diambil setelah penjualan mobil mereka anjlok drastis, terutama di dua pasar utama: Amerika Serikat dan China, dengan angka penurunan yang mencapai 94%.
Namun seiring waktu, kondisi semakin memburuk. Awal pekan ini, jumlah karyawan yang akan terkena dampak naik menjadi 20.000 orang.
Meski belum merilis pernyataan resmi, Nissan disebut menolak berkomentar terkait laporan ini, sebagaimana dikutip dari Japan Times.
Kerugian Mencapai Rp 82,6 Triliun, Utang Menggunung
Kondisi keuangan Nissan pun berada dalam titik kritis. Perusahaan baru-baru ini menyampaikan kepada pemegang sahamnya prediksi kerugian biaya restrukturisasi sebesar US$ 5 miliar (sekitar Rp 82,6 triliun) untuk tahun fiskal yang berakhir pada Maret 2025.
Tak hanya itu, menurut laporan Bloomberg, Nissan menghadapi tekanan besar dari sisi utang. Mereka memiliki kewajiban membayar utang jatuh tempo sebesar:
- US$ 1,6 miliar (Rp 26,4 triliun) pada tahun 2025
- US$ 5,6 miliar (Rp 92,5 triliun) pada tahun 2026
Situasi ini memperparah posisi keuangan Nissan yang sudah rapuh akibat penurunan penjualan dan margin keuntungan yang semakin menipis.
Persaingan Global dan Tarif AS Jadi Pukulan Tambahan
Follow dan Baca Artikel lainnya di Google News atau whatsapp channel
====================================== ====================================
















