
Salah satu penyebab utama terpuruknya Nissan adalah persaingan global yang semakin ketat, terutama dari produsen otomotif asal China.
Penetrasi mobil listrik dan kendaraan murah dari China di banyak negara menggoyang dominasi merek-merek Jepang, termasuk Nissan.
Selain itu, kebijakan kenaikan tarif impor kendaraan dari Presiden AS Donald Trump beberapa waktu lalu turut menjadi pukulan telak.
Meski berdampak pada banyak produsen Jepang, Nissan disebut menderita dampak terburuk karena ketergantungannya pada pasar Amerika.
Harapan yang Kandas: Merger Gagal, Pasar Tak Pulih
Sebelum pergantian tahun 2025, Nissan sempat mendapat secercah harapan lewat rencana merger dengan Honda dan Mitsubishi. Sayangnya, pada Februari 2025, rencana itu resmi batal.
Ketidakcocokan strategi dan kegagalan negosiasi menyebabkan kolaborasi besar itu gagal total, membuat Nissan kembali ke titik nadirnya.
Langkah PHK besar-besaran ini menjadi gambaran nyata betapa beratnya tantangan yang dihadapi Nissan.
Bukan hanya karena persaingan pasar dan kebijakan global, tetapi juga karena struktur bisnis yang tidak adaptif terhadap perubahan tren industri otomotif, khususnya mobil listrik.
Dengan tekanan utang besar, penurunan penjualan drastis, serta kegagalan merger strategis, masa depan Nissan kini berada di ujung tanduk.***
Follow dan Baca Artikel lainnya di Google News atau whatsapp channel
Follow dan Baca Artikel lainnya di Google News atau whatsapp channel
====================================== ====================================















