
Anas mengakui bahwa pada kondisi generasi milenial yang berkeluarga, ada fungsi indikator yang sulit tercapai. Meski demikian hak tersebut terus ditanggulangi melalui antisipasi program pencegahan.
“Seperti anak dibawah 19 tahun yang memiliki anak dalam pernikahan maupun di luar pernikahan sudah jauh berkurang dengan persentase 9,3 persen dari jumlah jiwa dari sebelumnya 15,6 persen. Jadi indeks anak melahirkan anak di usia dibawah 19 tahun itu indeksnya terus turun,” ujarnya.
Tak hanya itu, pernikahan dini di Kota Bogor juga terus menurun dan peningkatan penggunaan KB jangka panjang mengalami peningkatan.
Dengan begitu seseorang bisa memiliki anak dalam usia yang matang dan juga jaraknya tidak terlalu berdekatan.
Program ini, lanjut Anas, juga sejalan dengan Visi “Bogor Beres, Bogor Maju” pada misi Bogor Sejahtera.
“Karena keluarga berkualitas menyadarkan semua pihak serta wilayah bahwa penting keluarga menjadi satu basic ketahanan nasional yang dimulai dari daerah dari lingkup terkecil tingkat RT/RW. Karena ayah berfungsi berfungsi mewakili kewibawaan ketegasan keberanian dan ibu mengembangkan solidaritas, kasih sayang, dan kesetiakawanan,” kata Anas.
Dari capaian indeks kebahagiaan keluarga di Kota Bogor nantinya juga diharapkan dapat terbentuk ketahanan keluarga dan kesejahteraan keluarga.***
Follow dan Baca Artikel lainnya di Google News atau whatsapp channel
Follow dan Baca Artikel lainnya di Google News atau whatsapp channel
====================================== ====================================















