
“Jika saya bisa berinteraksi dengan AI yang memberikan respons tanpa menilai, itu akan terasa lebih aman dan nyaman,” ujar Singh.
Dia menambahkan, chatbot AI bisa menjadi solusi sementara untuk epidemi kesepian, terutama bagi kelompok yang kesulitan menjalin interaksi sosial secara langsung.
Misalnya, para lansia yang tinggal sendiri atau mereka yang mengalami gangguan seperti agorafobia — rasa takut untuk keluar rumah atau berinteraksi dengan orang lain.
Pandangan Baru tentang Pernikahan?
Singh juga menilai bahwa ketertarikan Gen Z pada pernikahan dengan AI bisa jadi berakar dari perubahan pandangan terhadap institusi pernikahan itu sendiri.
“Bagi sebagian anak muda, pernikahan mungkin dianggap sebagai institusi lama yang tidak lagi relevan dengan gaya hidup modern yang lebih mandiri,” jelasnya.
Walaupun terdengar seperti fiksi ilmiah, hubungan antara manusia dan AI semakin nyata dalam kehidupan sehari-hari.
Fenomena ini membuka ruang diskusi baru tentang batasan hubungan emosional, teknologi, dan identitas dalam dunia digital.
Meskipun AI tidak bisa sepenuhnya menggantikan manusia, keberadaannya jelas telah membentuk cara baru manusia mencari kedekatan dan rasa aman dalam hubungan sosial.***
Follow dan Baca Artikel lainnya di Google News atau whatsapp channel
Follow dan Baca Artikel lainnya di Google News atau whatsapp channel
====================================== ====================================















