
Kendati demikian, seiring dengan perkembangan zaman, muncul modernisasi dalam pembacaan Al-Qur’an dengan pendekatan metodologi mikro.
“Misalnya saja, metode cepat menghafal Al-Qur’an atau cepat membaca Al-Qur’an. Namun, prosesnya ditinggalkan,” ungkap Dedi Mulyadi.
Hal itu, menurutnya, memang baik secara syiar, tetapi di balik itu masjid-masjid justru sepi dari anak-anak yang mengaji. Mereka tidak mengenal dan tidak merasa dekat dengan masjid.
“Yang penting bisa baca Al-Qur’an, tapi kedekatan emosional dengan guru dan masjidnya hilang. Akhirnya, mereka jauh dari masjid,” tuturnya.
Ia menambahkan, dengan metodologi seperti itu, kenikmatan dalam menjalani proses akan hilang.
“Dulu belajar membaca Al-Qur’an bisa butuh waktu 2–3 tahun, bahkan ada yang sampai 5 tahun. Panjang sekali prosesnya,” ucap Dedi.
Dalam proses belajar itulah, kata dia, terjadi perjalanan spiritual, kedekatan antara guru dan murid serta masjid. Tidak lepas, kemudian guru mulai mengajarkan makna dari Al-Qur’an.
“Maka Al-Qur’an itu tersublimasi dalam pikiran dan relung bawah sadar murid. Karena lahir dari bawah sadar, maka bacaannya penuh makna dan lahirlah keikhlasan,” tuturnya.***
Follow dan Baca Artikel lainnya di Google News atau whatsapp channel
Follow dan Baca Artikel lainnya di Google News atau whatsapp channel
====================================== ====================================















