ESA Ciptakan Gerhana Matahari Buatan di Luar Angkasa Lewat Dua Satelit

ESA Ciptakan Gerhana Matahari Buatan di Luar Angkasa Lewat Dua Satelit

BOGORTODAY.COM – Untuk pertama kalinya dalam sejarah, Badan Antariksa Eropa (ESA) berhasil menciptakan gerhana Matahari buatan di luar angkasa menggunakan dua satelit yang terbang dalam formasi presisi tinggi.

Pencapaian ini diumumkan ESA pada Senin (16/6/2025) dan menjadi tonggak penting dalam riset tentang Matahari dan atmosfernya.

Dua Satelit, Satu Gerhana Buatan

Dua satelit bernama Coronagraph dan Occulter merupakan bagian dari misi Proba-3, yang dikembangkan ESA untuk melakukan terbang formasi di luar angkasa.

Keduanya mengorbit dengan jarak 130 meter satu sama lain, membentuk bayangan presisi yang menyerupai gerhana Matahari.

“Proba-3 adalah misi terbang lintas antariksa pertama ESA dan pertama di dunia. Sepasang pesawat ruang angkasa ini menciptakan gerhana buatan untuk membuka pandangan berkelanjutan terhadap korona Matahari,” jelas ESA dalam laman resminya.

Mengungkap Rahasia Korona Matahari

Dengan menciptakan gerhana buatan, tim ilmuwan dapat mengamati korona Matahari—lapisan paling luar atmosfer Matahari—secara lebih mendetail dan dalam waktu yang lebih lama dibandingkan gerhana alami.

Misi ini sangat penting untuk memahami fenomena seperti:

  • Angin Matahari, yaitu aliran partikel bermuatan dari Matahari
  • Lontaran Massa Korona (CME), yang dapat menyebabkan badai geomagnetik di Bumi
  • Pengaruh aktivitas Matahari terhadap cuaca antariksa
BACA JUGA :  Piala AFF 2026 Jadi Ajang Pembuktian Kualitas Pemain Domestik Racikan John Herdman

10 Gerhana Buatan, Hingga 5 Jam Durasi

Menurut ilmuwan utama misi, Andrei Zhukov dari Royal Observatory of Belgium, Proba-3 sejauh ini telah berhasil menciptakan 10 gerhana buatan, dengan durasi terlama mencapai lima jam.

“Kami hampir tidak bisa mempercayai mata kami. Ini adalah percobaan pertama, dan berhasil. Itu sangat luar biasa,” ujar Zhukov, penuh antusiasme.

Selama gerhana berlangsung, instrumen ASPIICS pada satelit Coronagraph merekam citra korona Matahari, sementara satelit Occulter menghalangi cahaya langsung dari Matahari.

Foto-foto tersebut kemudian diproses oleh tim ilmuwan di Belgia berdasarkan masukan komunitas ilmiah internasional.

Kualitas Gambar Lebih Unggul dari Gerhana Alami

Menurut Jorge Amaya, koordinator pemodelan cuaca antariksa di ESA, gambar-gambar korona yang dihasilkan Proba-3 jauh lebih unggul daripada yang diambil selama gerhana alami.

“Proba-3 akan mengamati korona Matahari hingga hampir ke tepi permukaannya. Ini sebelumnya hanya bisa dilakukan saat gerhana Matahari total,” ujar Amaya.

BACA JUGA :  PB Porprov Kota Bogor Matangkan SOP Pembagian Tugas Tiap Bidang

Dampak Luas bagi Bumi dan Industri

ESA menambahkan bahwa data dari misi Proba-3 akan digunakan untuk memperbaiki pemodelan komputer korona Matahari dan menghasilkan pemahaman yang lebih baik tentang cuaca antariksa—yang dapat memengaruhi teknologi di Bumi, seperti sistem komunikasi satelit, GPS, dan jaringan listrik.

“Simulasi pengamatan Proba-3 akan membantu masyarakat dan industri mempersiapkan diri menghadapi fenomena Matahari yang bisa berdampak langsung pada planet kita,” pungkas Amaya.

Tonggak Sejarah Baru dalam Eksplorasi Matahari

Keberhasilan Proba-3 menandai era baru dalam eksplorasi ilmiah berbasis teknologi canggih di luar angkasa, memungkinkan manusia mengamati Matahari dengan ketelitian dan kontinuitas yang belum pernah tercapai sebelumnya.

ESA berharap, pencapaian ini akan mempercepat pemahaman global tentang dinamika Matahari—bintang yang menjadi pusat tata surya kita.

Dengan gerhana buatan ini, umat manusia kini bisa “menjinakkan” fenomena langit demi ilmu pengetahuan dan keselamatan peradaban modern.***

Follow dan Baca Artikel lainnya di Google News atau whatsapp channel

Bagi Halaman

Follow dan Baca Artikel lainnya di Google News atau whatsapp channel



======================================
====================================