
Sementara itu, Ayu, salah satu pedagang asal Jawa Barat yang telah lama menjadi mukimin di Makkah, mengungkapkan bahwa momen haji adalah waktu penuh berkah.
“Omsetnya lumayan Mbak, bisa tembus Rp4 juta semalam,” kata Ayu.
Para pedagang ini tidak hanya hadir di Syib Amir, tetapi juga muncul dalam bentuk pasar tiban di berbagai sektor pemondokan jemaah Indonesia, seperti di Syisyah dan Raudhah. Biasanya, pasar ini hidup dari subuh hingga menjelang waktu Dhuha.
Nuansa Kampung Halaman di Tanah Haram
Kehadiran jajanan Nusantara di terminal dan pemondokan menciptakan suasana kampung halaman yang kental, meski berada ribuan kilometer dari Indonesia.
Bagi para jemaah, camilan dan makanan khas ini bukan sekadar pengganjal perut, melainkan penguat semangat dan penghilang rasa rindu di tengah padatnya rangkaian ibadah.
Terminal Syib Amir bukan hanya titik transit, tetapi juga ruang budaya dan rasa bagi jemaah Indonesia.
Di sinilah jiwa gotong-royong dan kreativitas masyarakat Indonesia terus hidup dan berkontribusi, bahkan di Tanah Suci.
Bagi para jemaah, Syib Amir menjadi tempat untuk beristirahat sejenak, menikmati hidangan akrab, dan merasakan kehangatan Indonesia di tengah samudera manusia dari berbagai penjuru dunia.***
Follow dan Baca Artikel lainnya di Google News atau whatsapp channel
Follow dan Baca Artikel lainnya di Google News atau whatsapp channel
====================================== ====================================















