
BOGORTODAY.COM – Wali Kota Bogor, Dedie A. Rachim, mendorong agar perusahaan atau produsen yang menggunakan kemasan sekali pakai turut bertanggung jawab dalam menangani permasalahan sampah.
Dorongan tersebut disampaikannya dalam forum diskusi interaktif pada Rapat Koordinasi Nasional (Rakornas) Pengelolaan Sampah 2025 yang digelar di Jakarta International Convention Center (JICC), pada Minggu (22/6/2025).
Rakor ini diselenggarakan oleh Kementerian Lingkungan Hidup/Badan Pengendalian Lingkungan Hidup dalam rangka mendorong akselerasi pengelolaan sampah, sekaligus memperingati Hari Lingkungan Hidup Sedunia.
“Iya, jadi dalam menangani permasalahan sampah ini tidak bisa hanya diserahkan kepada pemerintah daerah, tapi juga menjadi tanggung jawab para produsen, seperti produsen mi instan, popok, minuman dalam kemasan saset, dan berbagai produk lainnya yang menghasilkan sampah kemasan. Mereka juga harus ikut bertanggung jawab,” ujar Dedie Rachim.
Dalam forum diskusi tersebut, Dedie Rachim juga memaparkan data bahwa jumlah sampah yang dihasilkan dari produk para produsen tersebut mencapai jutaan.
Karena itu, ia mendorong agar para produsen turut membantu pemerintah daerah dalam menangani kemasan produk yang mereka hasilkan.
“Permasalahan ini harus benar-benar kita selesaikan bersama. Harus ada kontribusi dari semua pihak,” tambahnya.
Penguatan peran produsen juga tengah dilakukan oleh pemerintah pusat. Menteri Lingkungan Hidup, Hanif Faisol Nurofiq, menyampaikan bahwa berdasarkan data persampahan nasional, timbulan sampah yang terkelola sebesar 39,01 persen atau setara 22,09 juta ton dari total 56,63 juta ton pada tahun 2023, dengan argumen sampah yang dibawa ke TPA dan dioperasionalkan secara open dumping tidak disebut terkelola.
Untuk mengembalikan fungsi TPA sebagai tempat pemrosesan residu saja, maka sampah harus dialihkan sepenuhnya ke fasilitas pengolahan dengan membangun rantai pasok ekonomi sirkular yang berkelanjutan.
Offtaker akan menjadi penyerap utama hasil pengumpulan, baik dalam bentuk bahan baku daur ulang, maupun energi, seperti RDF, kompos, atau biogas.
Langkah lain yang didorong adalah mengembangkan fasilitas pengolahan di tingkat tengah, seperti TPS3R dan TPST, serta memberdayakan masyarakat melalui bank sampah.
Follow dan Baca Artikel lainnya di Google News atau whatsapp channel
====================================== ====================================















