
Di puncak krisis, Maryam hampir kehilangan akal. Di situlah telepon dari Sayyidah menjadi oase di padang pasir.
“Tapi kalau Sayyidah selalu bilang, ‘Mamah, tenang… mamah, tenang,’ itu saja yang diucapkan,” tuturnya sambil menahan air mata.
Sayyidah juga menuturkan bahwa ia dan teman-temannya kini ditempatkan di kampus Baku, Azerbaijan, menunggu jalur evakuasi. Maryam berujar,
“Sekarang dia sudah di Baku; sudah dievakuasi ke sana. Semoga segera pulang.”
Doktorandus Sayyidah hanya membutuhkan beberapa bulan lagi untuk mempertahankan disertasinya.
“Awal 2026 itu beres. Itu harus sudah balik ke Indonesia.” Rencana itu kini terkatung antara harapan dan peluruhan logistik evakuasi.
Kini, Maryam menantikan tibanya putrinya bersama 31 mahasiswa Indonesia lainnya yang tersisa di sana.
“Hari ini, kalau tidak salah, jumlahnya terakhir 31 orang. Kurang tahu info pasti sampai sini jam berapa,” katanya.
“Mudah-mudahan pulang kembali ke Indonesia dengan sehat, kemudian sukses juga S3-nya, barokah rezekinya,” harap Maryam lirih. ***
Follow dan Baca Artikel lainnya di Google News atau whatsapp channel
====================================== ====================================















