
BOGORTODAY.COM – Kecamatan Sukajaya menampilkan kekayaan budaya lokal dalam ajang Helaran Budaya yang digelar Pemerintah Kabupaten Bogor di area Stadion Pakansari, Cibinong, sebagai bagian dari rangkaian perayaan Hari Jadi Bogor (HJB) ke-543 pada Sabtu 14 Juni 2025 lalu.
Acara tahunan ini dipadati ribuan pengunjung yang antusias menyaksikan ratusan atraksi budaya dari berbagai kecamatan di Kabupaten Bogor. Masing-masing wilayah menampilkan keunikan seni, tradisi, dan produk lokal khas daerahnya.

Kecamatan Sukajaya hadir dengan nuansa kearifan lokal yang kuat. Hiasan patung berbahan dasar gula merah produk unggulan dari salah satu desa di wilayah tersebu menjadi daya tarik tersendiri, ditampilkan bersama kendaraan hias yang penuh ornamen khas serta miniatur leuit atau lumbung padi tradisional yang merupakan simbol dari Desa Adat Urug, sebuah desa yang masih mempertahankan nilai-nilai adat dan budaya leluhur Sunda.
Camat Sukajaya, Rahmawati Aries menyampaikan bahwa keikutsertaan Kecamatan
Sukajaya dalam Helaran Budaya bukan semata-mata untuk memeriahkan acara, tetapi juga menjadi sarana strategis untuk memperkenalkan dan mengangkat potensi budaya serta ekonomi lokal di hadapan masyarakat luas.
“Kami sangat bersyukur bisa ikut ambil bagian dalam Helaran Budaya yang luar biasa ini. Apa yang kami tampilkan hari ini, mulai dari patung gula merah hingga miniatur rumah leuit, adalah cerminan dari kekayaan budaya dan potensi lokal masyarakat Sukajaya. Gula merah misalnya, bukan hanya komoditas ekonomi, tetapi juga bagian dari identitas desa kami. Diproduksi secara tradisional oleh warga, dengan menjaga kualitas dan keaslian rasa, produk ini menjadi kebanggaan kami di pasar lokal maupun luar daerah,” ujarnya kepada Bogor Today.

Camat Sukajaya juga memaparkan dalam perhelatan telaran tersebut pihaknya membawa miniatur leuit sebagai simbol ketahanan pangan yang sudah diterapkan secara turun menurun di desa Adat Urug.
“Selain itu, keberadaan rumah leuit yang kami tampilkan bukan sekadar simbol, tapi filosofi. Leuit melambangkan kerja keras, ketahanan pangan, dan semangat gotong royong warga desa. Di era modern seperti sekarang, kami ingin mengajak generasi muda untuk tidak melupakan akar budaya dan sejarahnya. Karena dari sanalah tumbuh karakter dan jatidiri kita sebagai orang Sunda,” katanya.
Kedepan, Kecamatan Sukajaya bertekad untuk mengembangkan potensi ini secara lebih serius. Mendorong kerja sama lintas sektor, menggandeng pelaku usaha, pemerintah daerah, dan komunitas budaya, agar potensi bisa dikembangkan menjadi destinasi ekowisata budaya.
“Tidak hanya mengangkat perekonomian warga, tapi juga menjaga nilai-nilai tradisi agar tidak hilang ditelan zaman. Kami ingin membuktikan bahwa desa bukan sekadar tempat yang tertinggal, tapi bisa menjadi pusat inovasi berbasis budaya dan kearifan lokal,” pungkasnya.
Bagi HalamanFollow dan Baca Artikel lainnya di Google News atau whatsapp channel
====================================== ====================================















