4 Hal yang Terjadi Pada Tubuh Jika Berhenti Menggunakan Deodoran

Deodoran
foto: Memakai Deodoran

BOGORTODAY.COMBau badan bukan sekadar masalah estetika ini bisa memengaruhi kenyamanan orang-orang di sekitar kita. Karena itu, banyak orang memilih memakai deodoran setiap hari sebagai solusi praktis.

Namun ternyata, penggunaan deodoran secara rutin bisa menimbulkan dampak negatif bagi kesehatan, bahkan lebih besar dari manfaatnya. Melansir dari Bright Side (Rabu, 27/4/2022), berikut beberapa alasan kenapa berhenti menggunakan deodoran bisa baik untuk tubuh:

Manfaat Kesehatan dari Berhenti Pakai Deodoran

  1. Menjaga kesehatan reproduksi

Aroma segar yang tahan lama memang menarik, tapi bahan kimia seperti flatat yang membuat deodoran melekat lebih lama bisa mengganggu hormon dan memicu masalah pada sistem reproduksi.

  1. Secara alami bisa mengurangi bau badan

Antiperspirant bekerja membunuh bakteri di ketiak. Ironisnya, ini justru membuka jalan bagi bakteri lain yang menghasilkan bau lebih tajam untuk tumbuh. Saat deodoran dihentikan, tubuh bisa menyesuaikan diri dan mengurangi bau secara alami.

  1. Bermanfaat bagi mikrobioma alami kulitmu

Kulit kita menyimpan banyak mikroba bermanfaat. Produk berbahan dasar aluminium yang sering digunakan pada antiperspirant bisa membunuh mikroba baik sekaligus menutup kelenjar keringat.

BACA JUGA :  Warga Malasari Antusias Ikut Ngubek Empang di HJB ke-544

Bila tidak bisa total berhenti, beralih ke deodoran alami bisa jadi opsi yang lebih ramah tubuh.

  1. Anda bahkan tidak membutuhkannya

Ada gen bernama ABCC11 yang menentukan apakah seseorang menghasilkan bau badan dari ketiaknya. Sebagian orang tidak memiliki gen ini tapi tetap menggunakan deodoran sebagai kebiasaan. Jika Anda merasa tidak terlalu bau, mungkin sudah waktunya rehat dari antiperspirant.

Kesalahan Umum Saat Menggunakan Deodoran

  • Salah pilih produk

Banyak orang belum menyadari perbedaan antara deodoran dan antiperspirant. Deodoran hanya mengatasi bau, sementara antiperspirant bekerja mencegah keluarnya keringat. Memahami perbedaan ini penting agar kamu bisa memilih produk sesuai dengan kebutuhan tubuh.

  • Memakai merek yang sama terus-menerus

Ada kecenderungan kita untuk terus memakai merek favorit karena sudah merasa cocok. Tapi faktanya, tubuh terutama kelenjar keringat bisa menyesuaikan diri dan menjadi kurang responsif terhadap produk tersebut. Oleh karena itu, sesekali mengganti merek atau formulasi bisa membantu mempertahankan efektivitasnya

  • Mengoleskan terlalu sedikit
BACA JUGA :  Jenal Mutaqin Ajak Warga Manfaatkan Program Sunat Gratis di Puskesmas se-Kota Bogor

Karena khawatir akan kandungan kimia, sebagian orang mengoleskan deodoran secara minimal di ketiak. Namun cara ini justru kurang efektif. Idealnya, produk dioleskan secara menyeluruh agar seluruh area yang rentan bau terlindungi.

  • Memakainya saat ketiak masih basah

Meskipun disarankan untuk mengoleskan deodoran setelah mandi, ternyata menggunakannya saat kulit masih basah bisa mengurangi efektivitasnya. Produk cenderung tidak menyerap dengan baik pada permukaan lembap. Sebaiknya, pastikan ketiak benar-benar kering sebelum mengaplikasikan deodoran.

  • Langsung pakai setelah mencukur

Mencukur bulu ketiak memang bisa meningkatkan kenyamanan, namun kulit setelah dicukur menjadi lebih sensitif. Mengoleskan deodoran dalam kondisi ini bisa menyebabkan iritasi atau sensasi tidak nyaman.

  • Salah waktu pemakaian

Banyak orang mengoleskan deodoran di pagi hari, padahal waktu yang optimal justru saat malam hari. Saat tidur, tubuh lebih tenang dan pori-pori dalam keadaan lebih tertutup, membuat bahan aktif dalam produk dapat bekerja lebih maksimal dalam menghambat keringat dan bau.

Follow dan Baca Artikel lainnya di Google News atau whatsapp channel



======================================
====================================