Fenomena Mobil Bekas 0 Kilometer di China: Antara Strategi Penjualan dan Risiko Pasar

ilustrasi-mobil-china

BOGORTODAY.COM – Pasar mobil bekas di China tengah diramaikan oleh tren tak biasa: menjual mobil bekas 0 kilometer.

Fenomena ini mengacu pada kendaraan yang secara administratif telah tercatat sebagai “terjual”, namun secara fisik belum pernah dipakai di jalan.

Praktik ini menimbulkan keprihatinan karena meski kondisinya nyaris seperti baru, unit tersebut dijual kembali sebagai mobil bekas.

Strategi Penjualan Terselubung

Menurut laporan Carnewschina, praktik ini mulai marak karena dianggap sebagai jalan pintas untuk menghabiskan stok dan menaikkan angka penjualan. Para dealer afiliasi dan platform pihak ketiga memainkan peran besar dalam transaksi semacam ini.

Alasan di baliknya cukup beragam:

  • Mengejar target penjualan dari produsen
  • Memanfaatkan celah subsidi pemerintah
  • Mengurangi tekanan inventaris gudang
  • Memoles laporan penjualan agar terlihat lebih impresif

“Ini cara produsen mengurangi stok, mengejar target, bahkan memoles laporan penjualan. Tapi dampaknya merusak transparansi dan persaingan pasar,” tulis Carnewschina.

Risiko bagi Konsumen

Meski tampak menguntungkan dari segi harga dan kondisi, mobil 0 km yang dijual sebagai bekas menyimpan sejumlah risiko, di antaranya:

  • Kehilangan status sebagai pemilik pertama, yang bisa berdampak pada nilai jual kembali dan jaminan purna jual.
  • Kualitas baterai atau komponen lain bisa menurun akibat lama tak digunakan.
  • Depresiasi nilai lebih cepat, karena langsung tercatat sebagai kendaraan bekas.
BACA JUGA :  Jetour T2 i-DM Siap Meluncur di Indonesia, SUV Plug-in Hybrid dengan Jarak Tempuh Tembus 1.000 Km

Tren Ekspor yang Meningkat

Yang lebih mengkhawatirkan, praktik ini tidak hanya terjadi di pasar domestik, tapi juga meluas ke pasar ekspor. Mobil-mobil 0 km ini dijual ke luar negeri dengan label kendaraan bekas.

Data menunjukkan lonjakan tajam dalam ekspor mobil bekas dari China:

  • 2023: 275.000 unit
  • 2024: 436.000 unit
    Naik lebih dari 58% hanya dalam setahun.

Banyak pihak menduga, lonjakan ini dipicu oleh praktik menjual mobil “baru tapi bekas”. Unit-unit tersebut dibiarkan di dealer setelah dicatat sebagai terjual, lalu diekspor setelah dinyatakan sebagai mobil bekas.

Pemerintah China Perketat Regulasi

Merespons kekacauan ini, pemerintah China mulai memperketat regulasi ekspor kendaraan bekas. Kementerian Perdagangan (MOFCOM) bersama empat lembaga lainnya telah menetapkan aturan baru:

  1. Setiap kendaraan bekas wajib memenuhi standar teknis nasional, yakni:
    • WM/T 8-2022 untuk mobil penumpang
    • WM/T 9-2022 untuk kendaraan komersial dan trailer
  2. Pemeriksaan pihak ketiga diwajibkan untuk memastikan kondisi dan kelayakan teknis kendaraan.
  3. Eksportir harus menyertakan laporan inspeksi resmi dan mematuhi regulasi negara tujuan ekspor.
  4. Pemerintah juga mendorong pemanfaatan sistem “Rekam Kesehatan Elektronik Pemeliharaan Otomotif”, guna melacak riwayat servis kendaraan sebelum diekspor.
BACA JUGA :  Rudy Susmanto Bangga, Panda Pertama Indonesia Lahir di Kabupaten Bogor

Juru bicara MOFCOM, He Yadong, menyatakan bahwa langkah ini bertujuan untuk:

“Mendukung perluasan sektor nasional dan menjaga ketertiban pengembangan pasar ekspor kendaraan bekas.”

Tren mobil bekas 0 km di China membuka tabir strategi industri otomotif yang bermain di batas tipis antara taktik bisnis dan manipulasi pasar. Meski secara teknis legal, dampaknya bisa merugikan konsumen dan mengganggu keseimbangan pasar global.

Dengan pengetatan regulasi dari pemerintah China, diharapkan praktik ini dapat lebih transparan dan tidak menimbulkan risiko tersembunyi, baik di dalam negeri maupun di negara tujuan ekspor.***

Follow dan Baca Artikel lainnya di Google News atau whatsapp channel

Bagi Halaman

Follow dan Baca Artikel lainnya di Google News atau whatsapp channel



======================================
====================================