
Pencurian kabel laut bukanlah masalah sepele. Akibat langsung dari aksi ini adalah terputusnya koneksi internet di wilayah terdampak.
Dampaknya pun merembet ke berbagai sektor: kelumpuhan layanan publik, gangguan bisnis digital, hingga terhambatnya proses belajar-mengajar berbasis daring.
Yang lebih menyulitkan, proses perbaikan kabel bawah laut sangat kompleks. Jika lokasi kerusakan berada dekat pantai, penanganan bisa lebih cepat.
Namun jika terjadi di kedalaman laut dengan tekanan ekstrem dan cuaca yang menantang, maka dibutuhkan teknologi canggih, biaya besar, dan waktu yang tidak sebentar. Satu titik perbaikan saja bisa menelan biaya miliaran rupiah dan memakan waktu berminggu-minggu.
Strategi Pencegahan dan Perlindungan
Untuk mencegah kerusakan dan pencurian berulang, perlindungan SKKL perlu menjadi prioritas nasional.
Upaya ini harus melibatkan berbagai pihak lintas sektor — mulai dari operator telekomunikasi, aparat penegak hukum, hingga kerja sama antarnegara dan organisasi internasional.
Pemanfaatan teknologi pemantauan berbasis satelit, pelacakan aktivitas mencurigakan di laut, serta peningkatan patroli di wilayah rawan bisa menjadi langkah awal.
Pemerintah juga perlu menyusun regulasi yang lebih tegas terhadap pelaku kejahatan terhadap infrastruktur digital.
Pencurian kabel bawah laut bukan hanya soal kerugian material, tapi menyangkut kedaulatan digital dan kelangsungan aktivitas masyarakat di era serbadigital.
Diperlukan kesadaran kolektif dan tindakan terkoordinasi untuk melindungi SKKL sebagai tulang punggung komunikasi Indonesia. Sebab tanpa kabel laut, dunia maya bisa benar-benar lumpuh.***
Follow dan Baca Artikel lainnya di Google News atau whatsapp channel
Follow dan Baca Artikel lainnya di Google News atau whatsapp channel
====================================== ====================================















