
Bibit siklon tropis 98W yang saat ini berada di sekitar Pulau Luzon, Filipina, memang tidak berdampak langsung ke Indonesia.
Namun sistem ini memicu peningkatan kecepatan angin (low level jet) di Laut China Selatan dan Filipina utara yang berkontribusi terhadap instabilitas atmosfer regional.
Selain itu, dua sirkulasi siklonik di Samudra Hindia barat Sumatera dan Samudera Pasifik utara Papua Nugini turut membentuk zona pertemuan angin (konvergensi dan konfluensi) yang memperbesar peluang hujan di wilayah:
- Laut Jawa
- Laut Flores
- Sulawesi Tengah dan Tenggara
- Maluku bagian utara
Dampak dan Imbauan
BMKG mengimbau masyarakat dan pemerintah daerah untuk mewaspadai potensi bencana hidrometeorologi seperti banjir, tanah longsor, angin kencang, dan pohon tumbang akibat hujan lebat yang tidak kunjung reda ini.
Kelembaban udara tinggi dan suhu laut yang masih hangat berpotensi terus mendukung pembentukan awan hujan hingga pertengahan Juli.
Sebagai langkah antisipasi, masyarakat diimbau untuk terus memantau informasi cuaca terkini dari kanal resmi BMKG, serta meningkatkan kewaspadaan, khususnya di daerah rawan bencana.
Meski seharusnya sudah memasuki musim kemarau, sebagian besar wilayah Indonesia masih berada dalam tekanan cuaca basah akibat sejumlah anomali atmosfer dan laut.
BMKG memproyeksikan kondisi ini berlangsung hingga 12 Juli 2025, dan tidak menutup kemungkinan berlanjut jika faktor pemicunya tidak segera mereda.***
Follow dan Baca Artikel lainnya di Google News atau whatsapp channel
Follow dan Baca Artikel lainnya di Google News atau whatsapp channel
====================================== ====================================















