Indonesia Punya Potensi Besar Minyak Atsiri, Tapi Hilirisasi Masih Lemah

Minyak Atsiri

BOGORTODAY.COM – Indonesia saat ini menduduki peringkat ke-8 sebagai negara pengekspor bahan baku Minyak Atsiri di dunia, dengan kontribusi sekitar 4,12 persen terhadap total kebutuhan pasar global. Meski angka ini menunjukkan posisi Indonesia yang cukup signifikan dalam rantai pasok minyak atsiri internasional, sebagian besar ekspor masih dalam bentuk bahan mentah. Akibatnya, nilai tambah yang diperoleh dari komoditas tersebut belum optimal bagi perekonomian nasional.

Inspektur Jenderal Kementerian Perindustrian (Kemenperin), Mohammad Rum, menyampaikan bahwa hal ini menjadi tantangan utama bagi pemerintah. Menurutnya, meskipun Indonesia berada di posisi yang cukup strategis dalam perdagangan minyak atsiri global, dominasi ekspor bahan mentah justru menunjukkan lemahnya proses hilirisasi di sektor ini.

“Sebagian besar produk yang kita ekspor masih berupa bahan mentah, sehingga potensi nilai tambah yang seharusnya bisa kita nikmati di dalam negeri justru hilang begitu saja ke negara lain. Maka dari itu, penguatan hilirisasi menjadi kebutuhan yang sangat penting,” ujar Rum saat membuka acara Aromatika Indofest 2025 yang digelar di lingkungan Kementerian Perindustrian, Jakarta Selatan, Rabu (9/7/2025).

Ia menambahkan bahwa jika proses pengolahan bahan baku bisa dilakukan dalam negeri, maka struktur industri nasional akan lebih kuat dan mampu bersaing di pasar global. Hilirisasi tidak hanya akan menciptakan nilai tambah ekonomi, tetapi juga membuka lebih banyak lapangan pekerjaan, meningkatkan kapasitas produksi, serta memperkuat ekosistem industri berbasis sumber daya alam lokal.

BACA JUGA :  Sering Terbangun Pukul 3 Pagi dan Sulit Tidur Lagi? Ini Penyebab yang Perlu Diketahui

Dalam beberapa tahun terakhir, permintaan global terhadap minyak atsiri terus mengalami peningkatan. Perubahan gaya hidup masyarakat dunia yang kini lebih memilih produk alami, organik, dan ramah lingkungan membuat sektor ini semakin menjanjikan. Industri-industri seperti kosmetik alami, aromaterapi, makanan dan minuman berbahan herbal, hingga produk-produk kesehatan dan wellness menjadi konsumen utama minyak atsiri.

Pada tahun 2024, pasar global untuk minyak atsiri tercatat tumbuh sebesar 10 persen dibandingkan tahun sebelumnya. Proyeksi ke depan juga menunjukkan tren yang terus meningkat seiring berkembangnya preferensi konsumen terhadap produk yang sehat dan berkelanjutan.

“Tren dunia seperti green beauty, clean label, dan meningkatnya permintaan terhadap produk yang bersertifikat organik memberikan peluang besar bagi Indonesia. Komoditas unggulan kita seperti nilam, cengkih, dan kayu putih sangat diminati industri parfum, farmasi, hingga makanan sehat internasional,” tambah Rum.

Namun, di balik potensi yang besar itu, industri minyak atsiri nasional masih dihadapkan pada berbagai tantangan serius. Salah satu masalah utama adalah minimnya diversifikasi produk hilir. Banyak pelaku usaha hanya menjual minyak mentah tanpa mengembangkan produk turunan seperti minyak esensial murni, produk spa, skincare, atau bahkan produk farmasi berbasis minyak atsiri.

Selain itu, tantangan lain adalah belum adanya jaminan ketersediaan bahan baku yang berkelanjutan dan berstandar tinggi. Petani dan produsen kecil seringkali mengalami kesulitan dalam menjaga kualitas dan kontinuitas produksi karena terbatasnya infrastruktur serta pendampingan teknis. Tak hanya itu, akses ke pasar global juga masih menjadi hambatan akibat keterbatasan sertifikasi, promosi, dan daya saing harga.

BACA JUGA :  Apple Umumkan iOS 27 dan macOS 27, iPhone 11 Masih Kebagian Update

Rum juga menyoroti pentingnya peningkatan kapasitas dan kompetensi sumber daya manusia (SDM). Menurutnya, SDM yang memahami proses pengolahan, pengemasan, pemasaran, hingga ekspor produk hilir minyak atsiri masih sangat terbatas. Maka dari itu, dibutuhkan pelatihan dan program pemberdayaan secara menyeluruh.

Sebagai langkah konkret, Kemenperin berkomitmen untuk menerapkan kebijakan industri yang inklusif dan berkelanjutan, dengan pendekatan dari hulu ke hilir. Program ini akan mencakup penguatan kelembagaan petani minyak atsiri, penyediaan fasilitas produksi skala kecil dan menengah, sertifikasi produk, dan kemitraan dengan pelaku industri besar maupun lembaga riset.

“Pengembangan industri minyak atsiri harus dipandang sebagai upaya strategis untuk memperkuat ekonomi nasional. Bukan hanya untuk ekspor, tetapi juga untuk memenuhi kebutuhan domestik yang kian meningkat terhadap produk-produk berbasis bahan alami,” tutup Rum.

Dengan strategi hilirisasi yang tepat, Indonesia tidak hanya akan menjadi pemasok bahan baku, tetapi juga pelaku utama dalam rantai nilai global minyak atsiri. Potensi untuk menjadi pusat produksi dan inovasi produk berbasis minyak atsiri terbuka lebar, selama didukung oleh regulasi, riset, dan kolaborasi lintas sektor yang kuat.(mg2)

Sumber: kompas.com

Follow dan Baca Artikel lainnya di Google News atau whatsapp channel      

Bagi Halaman

Follow dan Baca Artikel lainnya di Google News atau whatsapp channel



======================================
====================================