Asal Usul Raden Wijaya: Keturunan Sunda-Jawa dan Awal Berdirinya Majapahit

Raden Wijaya

BOGORTODAY.COM Raden Wijaya dikenal luas sebagai pendiri Kerajaan Majapahit, salah satu kerajaan terbesar dalam sejarah Nusantara. Namun, asal-usulnya masih menjadi perdebatan di kalangan sejarawan.

Sejumlah naskah kuno, termasuk Wangsakerta, menyebutkan bahwa Raden Wijaya berasal dari garis keturunan campuran antara Sunda dan Jawa.

Keturunan Sunda dan Jawa

Menurut Naskah Wangsakerta, Raden Wijaya adalah putra dari Rakryan Jayadarma, seorang pangeran dari Kerajaan Sunda, dan Dyah Lembu Tal atau Dewi Singhamurti, putri dari bangsawan penting Jawa Timur, Mahisa Campaka. Rakryan Jayadarma adalah anak dari Prabhu Ghuru Darmasiksa, raja Kerajaan Sunda.

Setelah Rakryan Jayadarma meninggal dunia sebelum sempat naik takhta, Dyah Lembu Tal kembali ke Jawa Timur bersama Raden Wijaya yang masih kecil.

Di sanalah ia tumbuh besar dan kemudian menjadi menantu Raja Kertanagara dari Singasari, kerajaan besar yang kemudian runtuh akibat serangan Jayakatwang dari Kediri.

Mendirikan Kerajaan Majapahit

Setelah runtuhnya Singasari, Raden Wijaya bersama para pengikutnya mengungsi ke wilayah hutan belantara yang disebut Hutan Tarik. Di sanalah, pada tahun 1293, ia mendirikan Kerajaan Majapahit.

BACA JUGA :  Penjualan Mobil Mei 2026: Toyota Masih Dominan, Geely Masuk 10 Besar dan BYD Tersingkir

Nama “Majapahit” berasal dari buah maja yang memiliki rasa pahit, yang ditemukan di sekitar wilayah tersebut. Lokasi ini kini berada di wilayah Mojokerto, Jawa Timur.

Sumber-Sumber Sejarah

Naskah Wangsakerta sendiri merupakan hasil kompilasi yang dibuat pada abad ke-17 dan mencampur berbagai sumber sejarah seperti Pararaton, Nagarakretagama, dan Babad Tanah Jawi.

Ketiga sumber tersebut berasal dari era yang berbeda dan terkadang memiliki perbedaan versi mengenai tokoh-tokoh penting sejarah.

Penyebutan Dyah Lembu Tal sebagai seorang perempuan berasal dari interpretasi sarjana Belanda H. Kern, yang kemudian diadopsi dalam Wangsakerta.

Ini menunjukkan bahwa banyak cerita sejarah kita terbentuk melalui interpretasi lintas zaman dan budaya.

Nama Galuh dan Kaitannya

Dalam naskah Kidung Harṣawijaya, Raden Wijaya disebut sebagai Raden Galuh. Istilah “Galuh” sering kali dihubungkan dengan Kerajaan Galuh di Jawa Barat.

Namun, dalam bahasa Sanskerta, “galuh” berarti permata atau perhiasan, sehingga tidak serta-merta merujuk ke wilayah Sunda.

BACA JUGA :  Lahir dari Tempat Sederhana, Unitex Judo Club Bogor Terbukti Cetak Juara Dunia

Menariknya, di Jawa Timur juga terdapat nama-nama kuno seperti Hujung Galuh (nama pelabuhan) dan Watu Galuh, yang tidak memiliki kaitan langsung dengan Kerajaan Galuh di Jawa Barat.

Ini menunjukkan bahwa istilah “Galuh” memiliki makna luas dan tersebar di berbagai daerah Nusantara.

Kompleksitas Identitas Raden Wijaya

Kisah asal-usul Raden Wijaya mencerminkan kompleksitas sejarah dan perpaduan budaya di masa lalu.

Jika benar ia berdarah campuran Sunda dan Jawa, maka Majapahit tidak hanya merupakan kelanjutan dari tradisi Jawa Timur, tapi juga menjembatani berbagai unsur budaya dari wilayah lain di Nusantara.

Terlepas dari perdebatan mengenai kebenaran naskah tertentu, satu hal yang pasti: Raden Wijaya adalah tokoh penting dalam sejarah Indonesia, yang jejaknya melahirkan salah satu peradaban terbesar di Asia Tenggara.***

Follow dan Baca Artikel lainnya di Google News atau whatsapp channel

Bagi Halaman

Follow dan Baca Artikel lainnya di Google News atau whatsapp channel



======================================
====================================