
Inisiatif ini juga menjadi bagian dari upaya pelestarian budaya melalui batik, sekaligus membuka jalan bagi ekonomi kreatif yang lebih inklusif. Dengan kolaborasi antara kearifan lokal dan teknologi digital, diharapkan peserta pelatihan bisa bersaing di pasar yang lebih luas, baik secara daring maupun luring.
Pemimpin PT Pegadaian Kanwil XI Semarang, Edy Purwanto, menegaskan bahwa program ini mencerminkan keberpihakan Pegadaian terhadap kelompok marginal, khususnya difabel.
“Perusahaan tidak selalu mengutamakan bisnis semata, tetapi juga berupaya memberikan kemanfaatan kepada masyarakat luas,” ucapnya.
Program ini juga turut mendukung pencapaian berbagai Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs), di antaranya:
- SDG 4: Pendidikan berkualitas melalui pelatihan vokasi difabel
- SDG 8: Pekerjaan layak dan pertumbuhan ekonomi lewat akses pasar
- SDG 10: Pengurangan ketimpangan melalui pemberdayaan difabel
- SDG 12: Konsumsi dan produksi bertanggung jawab lewat usaha lokal
- SDG 17: Kemitraan untuk tujuan lewat sinergi BUMN dalam satu holding
Melalui kegiatan ini, PT Pegadaian menegaskan pentingnya memulai inklusi ekonomi dari komunitas paling rentan.
Dengan pelatihan, dukungan usaha, dan pendampingan menyeluruh, Pegadaian berharap komunitas difabel bisa bertumbuh menjadi pelaku usaha yang mandiri, percaya diri, dan kompetitif. (mg1)
Sumber: inews.id
Follow dan Baca Artikel lainnya di Google News atau whatsapp channel
Follow dan Baca Artikel lainnya di Google News atau whatsapp channel
====================================== ====================================














